Author Archives: Tech Greeneration

BISA! Greeneration Foundation Siap Dukung Kemenparekraf RI Mewujudkan Pariwisata Berkelanjutan

BISA! Greeneration Foundation Siap Dukung Kemenparekraf RI Mewujudkan Pariwisata Berkelanjutan

Bali, Senin - Selasa, 22 - 23 Maret 2021- Melalui Focus Group Discussion (FGD) yang diadakan di Politeknik Pariwisata Bali, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia (Kemenparekraf RI) membuka forum diskusi untuk pengembangan Program BISA (Bersih, Indah, Sehat, Aman) dalam mengembangkan potensi pariwisata Indonesia. Pada diskusi ini, hadir  Sandiaga Uno (Menteri Parekraf RI) dan Ir. Rizki Handayani, MBTM (Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Baparekraf) dari Kemenparekraf RI. Kegiatan ini juga dihadiri beberapa perwakilan Non Government Organization (NGO) sebagai kolaborator penyusunan program BISA, Jibriel Firman Sofyan (Greeneration Foundation), perwakilan Divers Clean Action, dan perwakilan Parongpong.

Foto 2. Greeneration Foundation mempresentasikan program EcoRanger (Dokumentasi Pemberdayaan Masyarakat)

Melalui FGD ini, para kolaborator memperkenalkan dan memaparkan capaian dari masing-masing programnya sebelum menyusun Logical Framework Analysis (LFA) program BISA yang akan dilaksanakan dalam jangka waktu 3-6 bulan. Dalam menyusun LFA, kerangka berpikir yang diadopsi adalah  program EcoRanger yang fokus ke permasalahan waste management di destinasi wisata. Hal ini selaras dengan Program BISA yang ingin menitik beratkan pada pengembangan waste management destinasi wisata Indonesia.

Foto 3. Kunjungan ke TPST Tulamben, Bali (Dokumentasi Pemberdayaan Masyarakat)

Selain membahas LFA sebagai konsep dasar Program Bisa, Kemenparekraf RI dan kolaborator  juga melakukan kunjungan ke Tulamben, Bali Timur. Tulamben menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan yang berkunjung ke Bali Timur. Wisata andalan Tulamben adalah spot Diving yang unik dan menarik. Spot diving di Tumbalen aksesnya mudah dijangkau wisatawan dan terdapat bangkai kapal karam. Di Tulamben, Kemenparekraf RI dan kolaborator berkunjung ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) yang sedang mendapat pendampingan dari Divers Clean Action.

Foto 4. Hasil pengolahan sampah di TPS Tulamben, Bali (Dokumentasi Pemberdayaan Masyarakat)

Melalui kegiatan ini kolaborator memberikan gambaran kepada Kemenparekraf RI mengenai permasalahan pengelolaan sampah di destinasi wisata Indonesia. Dengan lebih memahami permasalahan yang terjadi di lapangan, harapannya Kemenparekraf RI menyadari pentingnya pembangunan infrastruktur pengelolaan sampah dan pemberdayaan masyarakat dalam bidang pengelolaan sampah di destinasi wisata Indonesia. Program BISA diharapkan menjadi implementasi pembangunan pariwisata Indonesia yang berkelanjutan.

Share artikel ini

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

About us

Jl. Citamiang No. 6, Sukamaju, Kec. Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat 40121

Follow Us:

© 2021 EcoRanger Indonesia. All Rights Reserved

Mencari Inovasi! Ajang Creative Idea Competition Menggugah Kreativitas Inisiator Muda Atasi Masalah Pengelolaan Sampah Destinasi Wisata

Mencari Inovasi! Ajang Creative Idea Competition Menggugah Kreativitas Inisiator Muda Atasi Masalah Pengelolaan Sampah Destinasi Wisata

Banyuwangi, 19 Desember 2021 - Masalah pengelolaan sampah seperti tak ada habisnya untuk diperbincangkan. Bagaimana tidak? Tiap tahun jumlah sampah yang dihasilkan manusia semakin meningkat. Namun, pemecahan solusi pengelolaannya tidak berjalan seiringan. Kalau sudah begini, inovasi dan kolaborasi tentu menjadi aspek yang sangat fundamental dalam merumuskan solusi pengelolaan sampah, terutama sampah di destinasi wisata Indonesia. Berangkat dari kegelisahan ini, EcoRanger berusaha untuk memberikan wadah bagi para inovator yang bergerak di bidang pengelolaan sampah untuk menyampaikan gagasan kreatifnya terkait kegiatan dan model bisnis dalam menangani pengelolaan sampah melalui ajang Creative Idea Competition. Melalui ajang ini, EcoRanger berharap dapat membuka peluang kolaborasi dalam pengembangan sociopreneurship program Sentra Kelola Sampah (SEKOLA) dalam mengelola sampah di destinasi wisata.

Foto 1. Pemberian penghargaan kepada Aqilah Nurul K. L. (Dokumentasi Pemberdayaan Masyarakat)

Rangkaian dari kegiatan ini dimulai dengan pembukaan pendaftaran peserta. Peserta yang mengikuti kompetisi ini juga difasilitasi sesi sosialisasi dan konsultasi yang dilaksanakan via online. Dari kegiatan ini terkumpul 49 proposal yang terdiri dari 40 proposal kegiatan dan 9 proposal bisnis. Penentuan pemenang kegiatan ini telah melalui 3 tahap proses penjurian. Peserta yang berhasil memenangkan kompetisi ini dari kategori kegiatan adalah Aqilah Nurul Khaerani Latif (Juara 1), NECC Project (Juara 2), dan Gajahlah Kebersihan (Juara 3). Sedangkan pemenang untuk kategori model bisnis adalah: Nurul Azizah Kusumaningrum (Juara 1), Dearizky Ramadhan (Juara 2), dan Buntah.ID (Juara 3).

Foto 2. Memberikan penghargaan kepada Buntah.ID (Dokumentasi Pemberdayaan Masyarakat)

Seremonial penyerahan hadiah kepada peserta dilakukan bersamaan dengan EcoRanger Talkshow Series 2.0 yang dilaksanakan pada tanggal 25 Februari 2021. Kegiatan EcoRanger Talkshow Series 2.0 dapat disaksikan di link berikut: Live YouTube ETS 2.0 . Tak hanya itu, tim Community Empowerment juga memfasilitasi pemenang untuk menciptakan peluang kolaborasi melalui forum diskusi bersama. Harapannya, melalui forum diskusi, tim bisa membantu para pemenang untuk mengajukan proposal kegiatan ke instansi-instansi terkait. 

Foto 3. Pemberian penghargaan kepada Wageku (Dokumentasi Pemberdayaan Masyarakat)

Semakin banyak peluang kolaborasi yang tercipta, tentunya dapat meningkatkan efektifitas dalam  berupaya mengelola sampah, terutama sampah di destinasi wisata. Karena mengelola sampah tak semudah memproduksi dan membuangnya. Melalui program EcoRanger, tim Community Empowerment akan selalu berupaya mewujudkan pariwisata berkelanjutan dengan menangani masalah pengelolaan sampah di destinasi wisata. Tentunya, dalam berupaya kami membutuhkan dukungan dari seluruh pihak untuk mendukung program kami. Kamu juga bisa berupaya membantu terwujudnya sistem pengelolaan sampah yang baik di destinasi wisata Indonesia dengan berdonasi ke link Donasi berikut. Bersama lebih baik daripada sendiri.

Share artikel ini

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

About us

Jl. Citamiang No. 6, Sukamaju, Kec. Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat 40121

Follow Us:

© 2021 EcoRanger Indonesia. All Rights Reserved

Ecoranger Talkshow Series 2.0 “Kolaborasi” Menjawab Polemik Sampah di Destinasi Wisata Indonesia

Ecoranger Talkshow Series 2.0 “Kolaborasi” Menjawab Polemik Sampah di Destinasi Wisata Indonesia

Bandung, 25 Februari 2021 - Dalam rangka memperingati Hari Peduli Sampah Nasional yang jatuh pada tanggal 21 Februari 2021, Divisi Community Empowerment Greeneration Foundation mengadakan kelanjutan dari EcoRanger Talkshow Series 1.0 yaitu EcoRanger Talkshow Series 2.0 (ETS 2.0). Kali ini ETS 2.0 hadir dengan tema Polemik Permasalahan Sampah di Destinasi Wisata “Apakah Pengelolaan Sampah Menjadi Kunci Utama Pariwisata Berkelanjutan?”. Untuk memberi pengetahuan yang mendalam terkait isu sampah di destinasi wisata Indonesia, ETS 2.0 menghadirkan pembicara yang kompeten di bidangnya seperti Ir. Rizki Handayani, MBTM (Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Baparekraf Kemenparekraf RI), Ir. Renung Rubiyatadji, MM (Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLH Kabupaten Malang), Abizar Ghiffary (Network Facilitator Divers Clean Action), dan Arifin Putra (Aktor Indonesia). Antusiasme yang besar juga datang dari para peserta, sebanyak 189 orang telah mengikuti kegiatan ini. Tak hanya menerima ilmu dari para pembicara, peserta ETS 2.0 juga sangat aktif terlibat dalam diskusi. Peserta sangat bersemangat untuk menyampaikan aspirasi mereka dan mengulik informasi lebih dalam dari pembicara terkait isu persampahan di destinasi wisata Indonesia.

Gambar 2. Sesi diskusi dengan Arifin Putra (Dokumentasi Pemberdayaan Masyarakat)

Indonesia mengandalkan sektor pariwisata sebagai salah satu sumber pemasukan negara yang terbesar. Bermodalkan kekayaan alam dan kebudayaan yang dimiliki, sektor pariwisata Indonesia semakin berkembang pesat. Namun, perkembangan sektor pariwisata tidak selaras dengan kesadaran akan isu lingkungan yang timbul di destinasi wisata Indonesia. Salah satu isu yang masih jadi polemik adalah permasalahan sampah. Hal ini juga di amini oleh Arifin Putra, salah satu aktor Indonesia yang peduli dan aktif bergerak dalam kegiatan pelestarian lingkungan, ia mengungkapkan, “Pariwisata sangat penting karena banyak daerah yang bergantung pada sektor pariwisata untuk menjalankan aktivitas ekonomi. Namun, semakin berkembangnya sektor wisata juga bisa membawa banyak masalah lingkungan. Masyarakat pun tidak memiliki kesadaran bahwa masalah lingkungan, terutama tentang sampah ini penting untuk diselesaikan”.

Gambar 3. Sesi diskusi dengan Rubiyatadji dan Abizar Ghiffary's Reflections

Sebagai contoh dari permasalahan sampah di destinasi wisata, Abizar Ghiffary menyampaikan bahwa, “Salah satu contoh permasalahan adalah sampah di destinasi wisata terjadi di perairan Tanjung Karang yang menjadi destinasi wisata selam Palu. Saat saya menyelam, saya menemukan banyak sampah yang menutupi terumbu karang. Selain itu, terumbu karang juga rusak akibat jangkar kapal.” Oleh karena itu, beliau mengatakan penting untuk mengembangkan pariwisata berkelanjutan di Indonesia untuk mengatasi permasalahan sampah di destinasi wisata. “Pariwisata berkelanjutan bertujuan membangun destinasi wisata dengan melibatkan masyarakat lokal, pemerintah, organisasi, dan wisatawan untuk meningkatkan perekonomian, estetika, dan kelestarian lingkungan dan budaya”, ujar Abizar. Selain permasalahan sampah itu sendiri, hambatan dalam membangun pariwisata berkelanjutan adalah fasilitas yang kurang memadai baik untuk pengumpulan, pengolahan, maupun pengelolaan sampah di destinasi wisata. Banyak destinasi wisata Indonesia yang belum mampu untuk mengatasi timbunan sampah yang dibawa oleh wisatawan. Selain itu, kesadaran masyarakat lokal maupun wisatawan untuk mengatasi masalah sampah di destinasi wisata juga menjadi permasalahan yang mendesak untuk diselesaikan. Peran masyarakat lokal dan wisatawan sangat penting untuk mewujudkan pariwisata berkelanjutan di Indonesia. Menanggapi permasalahan sampah di destinasi wisata, Pemerintah Kabupaten Malang telah berupaya untuk mengurangi dan mengelola sampah destinasi wisata dengan melibatkan masyarakat dan berbagai organisasi lingkungan baik untuk mengolah sampah maupun edukasi. Pemerintah Kabupaten Malang mendukung pemerintah Desa yang memiliki destinasi wisata untuk membangun TPS 3R. Renung Rubiyatadji memaparkan destinasi wisata yang telah memiliki TPS 3R adalah Pujon Kidul dan Warung Tani Pan Java. Beliau menganggap keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan TPS 3R telah membantu mengatasi permasalahan sampah destinasi wisata karena sampah yang dihasilkan dapat diolah menjadi kompos, “TPS 3R adalah program yang mengolah sampah organik menjadi kompos yang dilaksanakan oleh masyarakat. Kompos yang dihasilkan sebanyak 30- 60 ton per bulan.”

Gambar 4. Sesi diskusi dengan Renung Rubiyatadji (Dokumentasi Pemberdayaan Masyarakat)

Dari berbagai pengalaman para pembicara dalam terlibat aktif mewujudkan pariwisata indonesia yang berkelanjutan, dapat disimpulkan bahwa kolaborasi adalah kunci menyelesaikan masalah sampah di destinasi wisata Indonesia. Hal tersebut disampaikan oleh Ir. Rizki Handayani, MBTM. Kemenparekraf RI yang berharap bisa berkolaborasi dengan masyarakat melalui program BISA (Bersih, Indah, Sehat, Aman) yang selaras dengan misi mewujudkan pariwisata berkelanjutan, “Program BISA awalnya fokus untuk beautifikasi, harapannya program ini bisa fokus ke edukasi tentang sampah kedepannya. Kami harap bisa berkolaborasi bersama masyarakat dan organisasi lingkungan untuk bersama-sama memperbaiki lingkungan.” Beliau juga menyatakan pentingnya menyamakan tujuan dan bekerjasama dengan komunitas dalam mengatasi permasalahan sampah, “Kita bersama masyarakat bisa berdiskusi dan menciptakan tujuan bersama sebagai bagian dalam berproses bersama. Kita juga harus berinovasi untuk kerjasama dengan komunitas”. Tak lupa Ibu Rizky memberikan semangat kepada seluruh peserta untuk tetap semangat dalam berjuang mengatasi masalah sampah di destinasi wisata Indonesia, “Jangan menyerah dan tetap optimis untuk menyelesaikan masalah kita bersama. Mari berkolaborasi untuk menciptakan Indonesia sehat dan bersih”. Dukung program EcoRanger dalam mewujudkan pariwisata Indonesia yang berkelanjutan dengan berdonasi ke kitabisa.com/sekolaecoranger

Share artikel ini

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

About us

Jl. Citamiang No. 6, Sukamaju, Kec. Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat 40121

Follow Us:

© 2021 EcoRanger Indonesia. All Rights Reserved

Greeneration Foundation dan Coca-Cola Foundation Indonesia Melalui EcoRanger Berkolaborasi Menyelesaikan Masalah Sampah Di Destinasi Wisata

Versi English

Greeneration Foundation dan Coca-Cola Foundation Indonesia Melalui EcoRanger Berkolaborasi Menyelesaikan Masalah Sampah Di Destinasi Wisata

Versi English

Jakarta, 21 Januari 2021 - Greeneration Foundation bersama dengan Coca-Cola Foundation Indonesia pada hari ini (21/01/2021) menyampaikan pencapaian dari program EcoRanger Banyuwangi. EcoRanger Banyuwangi merupakan program yang diinisiasi oleh Greeneration Foundation dan berkolaborasi dengan Coca-Cola Foundation Indonesia (CCFI). Program ini merupakan pilot project dari EcoRanger Indonesia, yaitu implementasi sistem pengelolaan sampah di destinasi wisata yang telah dilaksanakan sejak November 2018 di Pantai Pulau Merah, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Pencapaian program telah menyentuh setidaknya 5 aspek yaitu terbentuknya struktur organisasi tim EcoRanger di wilayah Banyuwangi, partisipasi masyarakat setempat, pendanaan melalui implementasi social entrepreneurship, regulasi (pendampingan pemerintah setempat dalam penyusunan peraturan Desa Sumberagung Nomor 08 Tahun 2019 Tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga), dan operasional (pendirian Sektor Kelola Sampah (SEKOLA) sebagai infrastruktur persampahan dan fasilitas pengelolaan sampah terpadu).

Program EcoRanger sejalan dengan visi global “World Without Waste” dari The Coca-Cola Company sebagai upaya keberlanjutan perusahaan untuk menjadi bagian solusi terhadap tantangan lingkungan alam dunia sekaligus membangun ekosistem ekonomi sirkuler. Ketua Pelaksana Coca-Cola Foundation Indonesia, Triyono Prijosoesilo, menyampaikan “Melalui program EcoRanger, Coca-Cola bersama dengan Greeneration Foundation mendukung implementasi praktik pariwisata yang berkelanjutan di Indonesia dengan memberikan layanan Community Based Implementation (CBI). Kami sangat senang program ini telah berhasil mendorong masyarakat Desa Sumberagung untuk turut berpartisipasi dalam pelestarian daerah wisata dengan meningkatkan pengelolaan sampah yang berkelanjutan dan berbasis masyarakat.”

Salah satu pencapaian dari program EcoRanger Banyuwangi pada aspek operasional yaitu dengan berdirinya Sentra Kelola Sampah (SEKOLA) yang merupakan fasilitas pengelolaan sampah terpadu di Desa Sumberagung. Saat ini, SEKOLA dibangun secara non-permanen di atas lahan milik Perhutani KPH Banyuwangi Selatan seluas 250 m2. Kedepannya, diharapkan SEKOLA dapat menjadi cikal bakal dibangunnya TPS3R (Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle) di Desa ini.

Selain mendirikan SEKOLA, EcoRanger Banyuwangi juga berupaya menjaga kelestarian Destinasi Wisata melalui kegiatan bersih pantai di Pantai Pulau Merah di Banyuwangi yang terkenal sebagai salah satu ikon pariwisata yang paling banyak dikunjungi di Jawa Timur. Pantai tersebut juga menyimpan sebuah situs geologis Geopark Nasional Ijen. 

EcoRanger peduli terhadap Kelestarian destinasi wisata Pantai Pulau Merah karena sekitar lebih dari 4 ribu kilogram sampah dihasilkan dari kegiatan pariwisata setiap bulannya. Sampah tersebut akhirnya menumpuk dan mengganggu kenyamanan para wisatawan. Akibatnya, destinasi wisata kotor dan memberikan citra buruk bagi pengelola maupun pemerintah daerah setempat. Untuk menangani masalah sampah di destinasi wisata, diperlukan sebuah kolaborasi dan aksi nyata dalam upaya mencegah, mengendalikan serta menangani sampah.

“Melalui dukungan masyarakat dan pemerintah setempat, kini EcoRanger telah mampu memberikan banyak manfaat dalam pengelolaan sampah di destinasi wisata. Salah satunya yakni penyelenggaraan kegiatan bersih pantai setiap seminggu sekali. Kegiatan tersebut biasanya diikuti oleh para wisatawan domestik dan mancanegara yang sedang berkunjung di pantai Pulau Merah.” Ungkap Co-Founder Greeneration Indonesia, Mohamad Bijaksana Junerosano. 

Sampah yang telah dikumpulkan kemudian dipilah bersama dan disalurkan ke SEKOLA di mana kemudian, sampah diolah berdasarkan jenisnya. Sampah yang telah sampai di SEKOLA, dipilah secara rinci lalu dibagi menjadi 3 jenis yaitu Anorganik (recyclable), Organik dan Residu. Tak hanya pemilahan, SEKOLA juga menghasilkan beberapa produk dari pengolahan sampah yaitu pupuk kompos yang merupakan hasil olahan dari sampah organik, dan pot sabut kelapa. 

Gambar 2. Produk limbah olahan di destinasi wisata berupa kompos organik yang dibuat oleh tim EcoRanger di Banyuwangi (dokumentasi Greeneration Foundation)

“Selain mengolah sendiri sebagian sampah yang terkumpul, kami menyalurkan sampah anorganik ke Bank Sampah dan sampah residu kami kirimkan ke tempat pembuangan sampah akhir. Hingga akhir tahun 2020, SEKOLA yang dibangun bersama oleh kami, Yayasan Greeneration dan Coca-Cola Foundation Indonesia telah mampu mengelola sampah lebih dari 190 ton per tahun.” Lanjut Junerosano. 

Gambar 3. Produk limbah olahan di destinasi wisata berupa pot sabut kelapa yang dibuat oleh tim EcoRanger di Banyuwangi (dokumentasi Greeneration Foundation)

Melalui kegiatan diskusi Berbagi Pembelajaran Program Pengelolaan Sampah EcoRanger di Destinasi Wisata yang dilakukan secara daring pada hari ini (21/01/2021), bertujuan untuk berbagi tentang praktik pengelolaan sampah di Banyuwangi, Jawa Timur. Sebagai lembaga non profit, Yayasan Greeneration dan Coca-Cola Foundation Indonesia terus berkomitmen dalam mengawal isu persampahan di destinasi wisata. Inisiatif ini sejalan dan mendukung agenda pemerintah dalam mewujudkan pariwisata berkelanjutan di Indonesia. 

“Belajar dari program EcoRanger, kita telah melihat bahwa kolaborasi merupakan salah satu kunci untuk mewujudkan pengelolaan sampah yang lebih baik. Kami sebagai inisiator dari program EcoRanger, turut mengundang perusahaan lainnya untuk melanjutkan upaya kami, bersama dengan Yayasan Greeneration berkolaborasi menciptakan destinasi wisata bebas sampah.” tutup Triyono.   ***

***

Untuk informasi lebih lanjut,
dapat menghubungi:
Fauziah Syafarina Nasution, 
Communications Manager Coca-Cola Indonesia 
Email : fnasution@coca-cola.com. Mobile : 0811-981-343

 

 

Share artikel ini

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

About us

Jl. Citamiang No. 6, Sukamaju, Kec. Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat 40121

Follow Us:

© 2021 EcoRanger Indonesia. All Rights Reserved

Online Workshop “Sinergi Pengelolaan Sampah di Destinasi Wisata”

Online Workshop “Sinergi Pengelolaan Sampah di Destinasi Wisata”

Greeneration Foundation tetap konsisten dalam mewujudkan pariwisata berkelanjutan di Indonesia. Komitmen ini ditunjukan melalui seminar yang diinisiasi oleh Tim EcoRanger Banyuwangi pada 8 Oktober 2020. Seminar yang dilakukan secara daring ini disiarkan langsung melalui zoom dan youtube dan diikuti sekitar 140 peserta dari 25 provinsi di Indonesia. Sebagai tuan rumah kegiatan ini, Tim EcoRanger Banyuwangi mengundang 5 narasumber dari berbagai pihak yang terlibat dalam pengelolaan sampah di destinasi wisata. Mereka adalah Ibu Susi Herawati (Kepala Bidang Pengembangan Ekspose Generasi Lingkungan - Pusat Pelatihan Masyarakat dan Pengembangan Generasi Lingkungan - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan), Bapak Dimas Teguh (Manager Program EcoRanger Indonesia - Greeneration Foundation), Bapak Saka Dwi Hanggara (Waste Management Trainer - PT. Waste4Change), Bapak Candra Hermawan, M.Pd. (Ketua Program Studi Pendidikan Biologi - Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi), dan Bapak Edi Laksono (Wakil Ketua POKMAS Wisata Pulau Merah).Kegiatan ini juga memperoleh dukungan penuh oleh JICA Indonesia. 

Seminar daring yang diselenggarakan kurang lebih 3 jam ini menghasilkan poin-poin penting. Pertama, Permasalahan persampahan berakar pada kemauan dan kesadaran masing-masing individu. Perubahan perilaku produksi dan konsumsi yg lebih ramah lingkungan tidak hanya harus dilakukan oleh konsumen, tetapi juga produsen dlm proses produksinya. Kedua, diperlukan data-data persampahan yg aktual dan akurat untuk menunjang pengambilan kebijakan pengelolaan sampah secara tepat. Ketiga, Pemilahan sampah di sumber sangat membantu proses pengolahan lebih lanjut (daur ulang). Perkembangan teknologi pengolahan juga turut membantu pengurangan sampah residu yang “dibuang” ke TPA. Keempat, Diperlukan masterplan pengembangan pariwisata dengan mengikutsertakan rencana jangka panjang dan jangka pendek pengelolaan lingkungan, termasuk persampahan. Terakhir, Kerja sama berbagai stakeholder (pemerintah, pelaku usaha, komunitas, pelaku usaha dan wisatawan) untuk saling membantu mewujudkan pariwisata berkelanjutan.  Tim EcoRanger Banyuwangi turut mengedukasi pengurangan plastik sekali pakai kepada para peserta seminar daring. Kegiatan tersebut dilakukan di rumah masing-masing pada 02-07 Oktober 2020. Panitia menyediakan video tutorial untuk memandu peserta dalam mempraktikkan kegiatan daur ulang tersebut. Terdapat 3 pilihan kegiatan daur ulang, yaitu daur ulang material organik menggunakan biopori, daur ulang material plastik dengan ecobrick, dan daur ulang kertas bekas. Seluruh peserta tergabung dalam grup WhatsApp untuk mempermudah koordinasi. PT. Bamboo Arum sebagai startup yang memproduksi barang ramah lingkungan di Banyuwangi juga turut serta mendukung acara dengan donasi merchandise sedotan bambu sebagai upaya edukasi pengurangan plastik sekali pakai kepada para peserta.

Share artikel ini

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

About us

Jl. Citamiang No. 6, Sukamaju, Kec. Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat 40121

Follow Us:

© 2021 EcoRanger Indonesia. All Rights Reserved

Quick Count Sampah di TPS Pulau Merah

Quick Count Sampah di TPS Pulau Merah

Bertepatan dengan peringatan Hari Bumi, pada 22 April 2019 sebanyak 38 warga Dusun Pancer Desa Sumberagung Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi bersama tim EcoRanger bergotong royong melakukan penataan dan menghitung cepat timbunan sampah yang selama ini telah tertumpuk di TPS Pulau Merah. EcoRanger adalah program yang digagas oleh Greeneration Foundation yang berfokus pada pengelolaan sampah di area pariwisata, dalam hal ini Dusun Pancer yang memiliki 3 (tiga) wisata pantai yang sedang berkembang, yaitu Pantai Pulau Merah, Pantai Mustika, dan Pantai Wedi Ireng. Dari kegiatan pemindahan sampah, setidaknya 13.125 m3 sampah atau sekitar 2.187,5 ton sampah berhasil diangkut dari TPS Pulau Merah ke TPS Bulusan menggunakan dumptruck dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Banyuwangi. 

Kegiatan ini dilakukan untuk mengajak warga melihat kondisi nyata dan merenungkan nasib sampah di TPS jika sampah hanya ditumpuk dan dibiarkan begitu saja tanpa ada pengelolaan yang baik dan benar. Dari kegiatan ini, diharapkan warga tergugah untuk mulai melakukan pemilahan sampah di sumbernya, yaitu tiap-tiap rumah dan tempat usaha.

Selain itu di hari yang sama, Greeneration Foundation selaku penggagas program EcoRanger, memaparkan program EcoRanger di Ruang Rapat Sekretaris Daerah Kabupaten Banyuwangi. Ekspose program EcoRanger diwakili oleh Vanessa Letizia selaku direktur eksekutif Greeneration Foundation, Ridho Malik selaku project leader EcoRanger nasional, dan Hendro Subroto selaku ketua tim eksternal dan advokasi EcoRanger nasional, kemudian dilanjutkan dengan rapat bersama SKPD terkait mengenai pembangunan fisik Sentra Kelola Sampah (SEKOLAH) sebagai salah satu infrastruktur utama dalam pengelolaan sampah di Dusun Pancer. Sentra Kelola Sampah (SEKOLAH) EcoRanger di Dusun Pancer ini diharapkan menjadi contoh pengelolaan sampah di hilir secara holistik dan berkelanjutan di Kawasan Pariwisata Strategis Nasional (KPSN) di Indonesia.

Siti Muyasaroh

Tim eksternal dan advokasi EcoRanger Banyuwangi

Share artikel ini

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

About us

Jl. Citamiang No. 6, Sukamaju, Kec. Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat 40121

Follow Us:

© 2021 EcoRanger Indonesia. All Rights Reserved

Bersama Waste4Change, EcoRanger Lakukan Edukasi Bijak Sampah di Perkemahan Ilmiah Remaja Nasional XVIII

Bersama Waste4Change, EcoRanger Lakukan Edukasi Bijak Sampah di Perkemahan Ilmiah Remaja Nasional XVIII

Tim EcoRanger Banyuwangi bersama Waste4Change & PT Tetra Pak Indonesia tergabung sebagai tim edukator menyampaikan materi pengayaan pada peserta Perkemahan Ilmiah Remaja Nasional (PIRN) XVIII di Aula SMA Negeri 1 Giri Banyuwangi pada 27 Juni 2019. Acara tersebut diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dengan mengikutsertakan 979 peserta yang terdiri atas guru dan siswa dari berbagai tingkatan seperti SD, SMP, dan SMA sederajat dari 32 provinsi di Indonesia.

Penyampaian materi dibagi menjadi 5 (lima) sesi, dengan durasi tiap sesi kurang lebih 1 jam. Dalam rentang waktu tersebut, peserta diberi kesempatan untuk bertanya dan berdiskusi seputar pengelolaan sampah dan isu-isu terkini terkait persampahan di lingkungan sekitar. Materi yang disampaikan antara lain pemahaman sampah dari 2 (dua) sudut pandang, yaitu material yang langsung dibuang dan material yang masih dapat dimanfaatkan. 

Peserta diberikan pemahaman baru bahwa tidak semua material sisa kegiatan manusia atau proses alam dapat disebut sebagai sampah, karena sebagian di antaranya dapat digunakan kembali dengan fungsi yang sama (reuse) atau didaur ulang dengan atau tanpa pemrosesan menjadi barang dengan fungsi yang berbeda dengan fungsi asalnya (recycle). 

Tim edukator juga menjelaskan penggolongan sampah yang dibagi menjadi 4 (empat) jenis, yaitu sampah organik, sampah anorganik yang dapat didaur ulang, sampah B3, dan sampah residu. Peserta diajak untuk berdiskusi mengenai konsep 3R (reduce, reuse, dan recycle) dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.  

Foto: Pemateri memberikan penjelasan terkait penanganan sampah yang telah berjalan di beberapa wilayah di Indonesia

Dalam kesempatan ini, diperlihatkan juga contoh terkait penerapan daur ulang karton bekas minuman karton atau used beverage carton (UBC) yang telah dilaksanakan oleh PT Tetra Pak Indonesia sebagai salah satu bentuk tanggung jawab perusahaan terhadap keberlanjutan lingkungan (extended producer responsibility). 

Peserta diajak mendemonstrasikan program 3L, yaitu Lipat, Letak, dan Lepas yang dicanangkan oleh PT Tetra Pak Indonesia agar semua sampah UBC dapat terkelola dan tidak berakhir di TPA. PT Tetra Pak Indonesia juga menerapkan konsep penanaman bibit pohon baru sebagai ganti pohon yang ditebang untuk bahan baku kemasan karton untuk memastikan kegiatan produksinya tidak merusak sumber daya alam. 

Antusiasme peserta terlihat jelas dengan munculnya beberapa pertanyaan dan diskusi terkait praktik pengelolaan sampah yang telah dilakukan oleh peserta di lingkungannya masing-masing. Sebagian besar peserta sudah memahami pentingnya pengelolaan sampah, namun belum sepenuhnya mengerti bagaimana mengelola sampah yang benar dan bertanggung jawab. 

Melalui acara ini, diharapkan kesadaran mengurangi timbulan sampah dan mengelola sampah yang bertanggung jawab dapat ditumbuhkembangkan sejak dini, sehingga akan terbentuk mental anak-anak muda generasi bijak kelola sampah.

Share artikel ini

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

About us

Jl. Citamiang No. 6, Sukamaju, Kec. Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat 40121

Follow Us:

© 2021 EcoRanger Indonesia. All Rights Reserved

Komitmen Greeneration Foundation dalam Mencegah dan Menangani Dampak Krisis Iklim di Indonesia

Komitmen Greeneration Foundation dalam Mencegah dan Menangani Dampak Krisis Iklim di Indonesia

Dalam dokumen “First Nationally Determined Contribution Republic of Indonesia” (2016), dijelaskan bahwa Indonesia telah merasakan dampak dari perubahan iklim seperti fenomena cuaca ekstrem, dan peningkatan jumlah bencana hidrometeorologi (banjir, longsor, Dalam dokumen “First Nationally Determined Contribution Republic of Indonesia” (2016), dijelaskan bahwa Indonesia telah merasakan dampak dari perubahan iklim seperti fenomena cuaca ekstrem, dan peningkatan jumlah bencana hidrometeorologi (banjir, longsor, kekeringan, dsb.). Wilayah Indonesia yang berupa kepulaun juga teran kekeringan, dsb.). Wilayah Indonesia yang berupa kepulaun juga terancam oleh kenaikan muka air laut. Semua ancaman ini juga berhubungan langsung dengan ketersediaan pangan dan ruang hidup bagi masyarakat di wilayah rentan. Menyadari hal ini, Indonesia bersama negara-negara dunia telah menyatakan komitmen untuk menghadapi perubahan iklim sesuai yang tertuang dalam Persetujuan Paris. Indonesia menyatakan target penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 29% tanpa syarat, serta 41% bila dengan dukungan internasional pada tahun 2030, mengacu pada skenario business as usual. Target penurunan emisi yang disebut sebagai Nationally Determined Contribution (NDC) ini terbagi pada 5 sektor, kehutanan (deforestasi dan alih guna lahan), pertanian/agrikultur, limbah, industri dan penggunaan produk, serta energi. 

 

Mempertimbangkan bahwa dampak perubahan iklim telah jelas bisa dirasakan di berbagai wilayah, serta bahwa pemerintah telah memiliki komitmen untuk mengatasi permasalahan ini, tantangan berikutnya bagi pembuat kebijakan adalah dalam implementasi dan realisasi kebijakan ini dalam berbagai proyek dan program kebijakan. Bagaimanakah perkembangan terkini dari upaya tersebut, bila dilihat dari perspektif organisasi masyarakat sipil yang berhadapan secara langsung dengan dampak dan upaya penanganan perubahan iklim pada bidang serta domisili yang berbeda-beda? Masalah-masalah mendesak apa sajakah yang memerlukan perhatian khusus dari para pembuat kebijakan, serta program dan kebijakan apa saja yang bisa diambil pemerintah sebagai alternatif solusi pada masalah bersangkutan? 

 

Pertanyaan-pertanyaan ini didiskusikan bersama dalam sebuah Forum Group Discussion (FGD) pada Rabu, 23 September 2020. Greeneration Foundation sebagai organisasi nirlaba yang fokus dalam isu persampahan turut hadir dalam agenda tersebut. Greeneration Foundation yang saat diskusi diwakili oleh Dimas Teguh Prasetyo (Program Manager Ecoranger) membahas pentingnya perubahan perilaku manusia sebagai kunci dalam penanganan sampah. Menurutnya, permasalahan sampah akan berdampak langsung pada krisis iklim. Sampah yang tidak terkelola dengan baik akan lebih banyak menghasilkan timbunan di tempat pembuangan akhir (TPA). Apalagi, Indonesia masih menerapkan sistem open dumping yang berpotensi menghasilkan dampak negatif pada pelepasan gas metana dan kandungan berbahaya lain ke atmosfer. Oleh karena itu, Greeneration hadir dalam membantu masyarakat, dan stakeholder lainnya dalam meminimalisir dampak tersebut melalui program-program inovatif dan berkelanjutan. 

 

Dalam FGD yang diselenggarakan oleh The Climate Reality Project Indonesia, Greeneration Foundation juga memberikan beberapa usulan kebijakan terhadap pemerintah. Pertama, pemerintah perlu menyusun kebijakan atau regulasi yang dapat mendukung upaya pengurangan limbah. Kedua, pemerintah perlu menyusun standar yang mengusung prinsip-prinsip ekonomi sirkular untuk dapat diterapkan ke sektor industri agar dapat menekan laju peningkatan emisi atau gas rumah kaca. Ketiga, mendorong pemerintah lebih masif dalam mengkampanyekan gaya hidup berkelanjutan ke masyarakat luas. Keempat, pemerintah perlu mewujudkan sistem satu data persampahan yang memiliki sinkronisasi dan integrasi dengan seluruh aset dan informasi persampahan di Indonesia. Terakhir, pemerintah perlu membentuk tim khusus yang berfungsi mengawasi penerapan 5 aspek manajemen persampahan hingga level daerah. Usulan-usulan ini kemudian akan dimajukan dalam aksi friday for future bersama para policy makers pada Jumat, 25 September 2020.

Share artikel ini

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

About us

Jl. Citamiang No. 6, Sukamaju, Kec. Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat 40121

Follow Us:

© 2021 EcoRanger Indonesia. All Rights Reserved

Ubah Sabut Kelapa Muda Menjadi Pot Tanaman Hias

Ubah Sabut Kelapa Muda Menjadi Pot Tanaman Hias

Melihat banyaknya material organik berupa sabut kelapa muda dari para pelaku usaha di area wisata Pantai Pulau Merah menggelitik tim EcoRanger untuk mengubahnya menjadi barang yang punya nilai jual. Sabut kelapa tersebut dicacah untuk diambil serabutnya dan dijadikan pot tanaman hias.

 

Kegiatan bertajuk Recycle Day ini rutin dilakukan setiap hari Jumat dimulai pada 02 Oktober 2020 bersama tim EcoRanger Banyuwangi dan para relawan. Ke depannya, hal ini diharapkan mampu membuka lapangan kerja baru dengan memberdayakan para pemuda dan ibu-ibu di Dusun Pancer Desa Sumberagung, Banyuwangi.

Share artikel ini

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

About us

Jl. Citamiang No. 6, Sukamaju, Kec. Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat 40121

Follow Us:

© 2021 EcoRanger Indonesia. All Rights Reserved

KEMENPAREKRAF RI Kunjungi Pulau Merah untuk Studi Banding Pengelolaan Sampah

KEMENPAREKRAF RI Kunjungi Pulau Merah untuk Studi Banding Pengelolaan Sampah

Pada 22 Oktober 2020, Bapak M. Nurdin selaku Deputi Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenparekraf RI bersama bapak Rizal Panrelly selaku Asisten Deputi Pengelolaan Sampah dan Limbah dari Kementerian Koordinasi Kemaritiman dan Investasi bersama 10 staf Kemenparekraf dan 15 orang perwakilan pengelola wisata dan bank sampah di Banyuwangi melakukan kunjungan ke Pantai Pulau Merah dalam rangka  studi banding ke destinasi wisata yang telah menerapkan pengelolaan sampah plastik. Dalam kesempatan tersebut, tim EcoRanger berbagi tentang praktik pengelolaan sampah di area wisata pantai Pulau Merah yang merupakan salah satu icon wisata bahari di Kabupaten Banyuwangi. Tak hanya itu, rombongan diajak melihat langsung proses pemilahan sampah di Sentra Kelola Sampah yang terletak sekitar 700 meter dari area wisata. 

Kunjungan ini merupakan lanjutan dari kegiatan sosialisasi dan pemaparan draft dokumen petunjuk teknis pengelolaan sampah plastik di destinasi wisata bahari yang telah dilaksanakan pada 21 Oktober 2020 di Hotel Ketapang Indah Banyuwangi. Para peserta yang mengikuti rangkaian acara sosialisasi dan kunjungan lapangan tersebut diminta memberikan masukan agar juknis menjadi lebih implementatif. Rencananya, akan ada pilot project di beberapa lokasi di Indonesia untuk uji coba juknis yang merupakan turunan Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nomor 05 Tahun 2020 tentang pedoman pengelolaan sampah plastik di destinasi wisata  bahari.

Share artikel ini

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

About us

Jl. Citamiang No. 6, Sukamaju, Kec. Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat 40121

Follow Us:

© 2021 EcoRanger Indonesia. All Rights Reserved