Category Archives: Cleanup

Mengatasi Krisis Sampah Laut, 60 Nelayan Banyuwangi Bergabung dalam Program Fishing For Litter

Mengatasi Krisis Sampah Laut, 60 Nelayan Banyuwangi Bergabung dalam Program Fishing For Litter

Banyuwangi, 7 September 2021 – Krisis sampah laut yang tak kunjung tertangani membuat Indonesia bertengger sebagai penghasil sampah terbesar kedua di dunia. Indonesia menghasilkan sekitar 64 juta ton sampah plastik tiap tahunnya. Bahkan, laut Indonesia menerima 3,2 juta ton sampah plastik tiap tahunnya yang tak bisa dikelola. 

 

Hingga kini, krisis sampah laut Indonesia masih mengancam keberlanjutan hidup masyarakat maupun lingkungan. Dampak dari sampah plastik laut yang tak terkelola ini tentu sudah dirasakan langsung. Mikroplastik telah ditemukan dalam dalam konsumsi air mineral dan makanan laut. Berdasarkan riset yang dilakukan lembaga riset Ecoton pada tahun 2020, 100 liter air laut perairan timur Surabaya di Kenjeran hingga Tambak Wedi mengandung 195–598 partikel mikroplastik. Sampah plastik yang kita buang, kini kembali ke meja makan kita.

 

Fishing For Litter Solusi Permasalahan Sampah Laut Dusun Pancer

Menyadari bahaya yang disebabkan sampah plastik di laut, EcoRanger dari Greeneration Foundation bersama Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) Indonesia dan European Union menghadirkan program Fishing For Litter untuk mengatasi sampah plastik laut Indonesia dengan memberdayakan 60 nelayan Dusun Pancer, Banyuwangi sebagai aktor utama pembawa perubahan. Proyek ini menginisiasi nelayan untuk mengumpulkan sampah laut di dropping point yang nantinya akan dikelola secara bertanggung jawab oleh EcoRanger di Sentra Kelola Sampah (SEKOLA). 

Pentingnya Peran Nelayan Sebagai Agen Perubahan

Mengangkat keterlibatan nelayan sangat penting karena permasalahan ini berdampak langsung pada kelangsungan hidup nelayan yang sangat dekat dengan laut. Tujuan dari kegiatan ini untuk mengurangi sampah laut melalui konsep penangkapan ikan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan dengan mengembangkan program pengembangan masyarakat dan kerjasama multipihak.

           (Foto 2. Capacity Building Nelayan/                       Dokumentasi  Greeneration  Foundation)

 

Rangkaian Proyek Fishing For Litter

Proyek Fishing For Litter ini akan berjalan hingga Maret 2022 untuk mengubah perilaku nelayan terkait pengelolaan sampah secara bertahap. Proyek ini dimulai dari rangkaian kegiatan peningkatan kapasitas nelayan, Beach Clean Up, dan peresmian Fishing For Litter.

Peningkatan Kapasitas Nelayan

Peningkatan kapasitas nelayan diadakan di Aula Kantor IPPP Dusun Pancer, Banyuwangi pada tanggal 3-7 September 2021. Kegiatan ini diikuti oleh 60 nelayan lokal dengan mengikuti protokol kesehatan yang ditetapkan SATGAS Penanganan Covid-19 Dusun Pancer. Pada kegiatan ini, nelayan mendapatkan binaan tentang masalah sampah plastik dan sistem pengelolaannya. Sebagai bekal ilmu untuk mengelola sampah laut yang didapat dari aktivitas penangkapan ikan, Muhamad Muharam dari Waste4Change membina masyarakat untuk mendalami permasalahan dan merencanakan strategi untuk aksi mengumpulkan sampah laut, di mana 60 nelayan lokal yang dibina nantinya dapat memicu nelayan lain di Dusun Pancer, yang totalnya berjumlah 1.500 orang, untuk melakukan aksi serupa.

 

Nelayan Bentuk KUB Untuk Kelola Kegiatan Kelompok

Para nelayan juga mendapat pemaparan tentang peran yang akan mereka jalankan di kegiatan Fishing For Litter untuk tangani sampah laut. Dalam program Fishing For Litter ini, nelayan tak hanya berperan untuk mengumpulkan sampah laut, mereka juga akan berperan langsung membentuk dan mengelola Kelompok Usaha Bersama (KUB). Sebagai pengelola KUB, nelayan merencanakan strategi yang tepat untuk mengumpulkan sampah laut dan mengelola anggota agar tetap memiliki kesamaan visi dan misi. 

 

Capaian dari kegiatan peningkatan kapasitas nelayan ini, para nelayan berhasil membentuk 6 kelompok KUB dan membuat rancangan rencana aksi pengelolaan sampah, termasuk menentukan target, strategi operasional dan keterlibatan masyarakat dalam aksi pengumpulan sampah.

 

           (Foto3. Beach Clean Up Pantai Pulau                 Merah/Dokumentasi Greeneration Foundation)

 

Beach Cleanup Untuk Bersihkan Pantai

Selain peningkatan kapasitas nelayan, EcoRanger juga mengadakan Beach clean up yang diadakan di Pantai Pulau Merah pada tanggal 4 dan 11 September 2021. Aksi ini dilakukan untuk mengkampanyekan aksi peduli sampah laut dan memperingati hari Bersih Sampah Sedunia (World Clean Up Day). Aksi ini diikuti oleh 20 orang. Aksi ini berhasil mengumpulkan 36,8 Kg sampah pesisir Pantai Pulau Merah.

 

Dukungan Pemerintah Daerah Untuk Fishing For Litter

Rangkaian kegiatan ini mendapat respon positif dari Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Banyuwangi, Drs. H. Arief Setiawan, MM, dan Wakil Bupati Banyuwangi, Sugirah. Kita harus bergotong royong untuk menangani masalah sampah karena ini tidak bisa diselesaikan sendiri. Untuk menyelesaikan ini, kita semua harus menjaga semangat dan pantang menyerah demi Banyuwangi yang lebih makmur. Kami juga akan berupaya menjadikan KUB dari program Fishing For Litter menjadi binaan Dinas Perikanan Banyuwangi” pungkas Sugirah.

 

             (Foto 4. Peresmian Fishing For Litter/                     Dokumentasi Greeneration Foundation)

 

Diresmikannya program ini pada 7 September 2021 di Aula Kantor IPPP Dusun Pancer, Banyuwangi, menjadi harapan untuk aksi peduli kelestarian laut dapat diperluas dan melibatkan lebih banyak pihak seperti nelayan yang kehidupannya tak bisa dipisahkan dari laut. Peresmian ini didukung penuh oleh Wakil Bupati Banyuwangi, Dinas Perikanan Banyuwangi, Camat Pesanggaran, Kepala Desa Sumber Agung, serta Kepala Dusun Pancer.  Fishing For Litter “Aksi Untuk Laut Indonesia”.

Share artikel ini

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tentang Kami

Jl. Citamiang No. 6, Sukamaju, Kec. Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat 40121

Ikuti Kami:

© 2021 EcoRanger Indonesia. All Rights Reserved

Komitmen Greeneration Foundation dalam Mencegah dan Menangani Dampak Krisis Iklim di Indonesia

Komitmen Greeneration Foundation dalam Mencegah dan Menangani Dampak Krisis Iklim di Indonesia

Dalam dokumen “First Nationally Determined Contribution Republic of Indonesia” (2016), dijelaskan bahwa Indonesia telah merasakan dampak dari perubahan iklim seperti fenomena cuaca ekstrem, dan peningkatan jumlah bencana hidrometeorologi (banjir, longsor, Dalam dokumen “First Nationally Determined Contribution Republic of Indonesia” (2016), dijelaskan bahwa Indonesia telah merasakan dampak dari perubahan iklim seperti fenomena cuaca ekstrem, dan peningkatan jumlah bencana hidrometeorologi (banjir, longsor, kekeringan, dsb.). Wilayah Indonesia yang berupa kepulaun juga teran kekeringan, dsb.). Wilayah Indonesia yang berupa kepulaun juga terancam oleh kenaikan muka air laut. Semua ancaman ini juga berhubungan langsung dengan ketersediaan pangan dan ruang hidup bagi masyarakat di wilayah rentan. Menyadari hal ini, Indonesia bersama negara-negara dunia telah menyatakan komitmen untuk menghadapi perubahan iklim sesuai yang tertuang dalam Persetujuan Paris. Indonesia menyatakan target penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 29% tanpa syarat, serta 41% bila dengan dukungan internasional pada tahun 2030, mengacu pada skenario business as usual. Target penurunan emisi yang disebut sebagai Nationally Determined Contribution (NDC) ini terbagi pada 5 sektor, kehutanan (deforestasi dan alih guna lahan), pertanian/agrikultur, limbah, industri dan penggunaan produk, serta energi. 

 

Mempertimbangkan bahwa dampak perubahan iklim telah jelas bisa dirasakan di berbagai wilayah, serta bahwa pemerintah telah memiliki komitmen untuk mengatasi permasalahan ini, tantangan berikutnya bagi pembuat kebijakan adalah dalam implementasi dan realisasi kebijakan ini dalam berbagai proyek dan program kebijakan. Bagaimanakah perkembangan terkini dari upaya tersebut, bila dilihat dari perspektif organisasi masyarakat sipil yang berhadapan secara langsung dengan dampak dan upaya penanganan perubahan iklim pada bidang serta domisili yang berbeda-beda? Masalah-masalah mendesak apa sajakah yang memerlukan perhatian khusus dari para pembuat kebijakan, serta program dan kebijakan apa saja yang bisa diambil pemerintah sebagai alternatif solusi pada masalah bersangkutan? 

 

Pertanyaan-pertanyaan ini didiskusikan bersama dalam sebuah Forum Group Discussion (FGD) pada Rabu, 23 September 2020. Greeneration Foundation sebagai organisasi nirlaba yang fokus dalam isu persampahan turut hadir dalam agenda tersebut. Greeneration Foundation yang saat diskusi diwakili oleh Dimas Teguh Prasetyo (Program Manager Ecoranger) membahas pentingnya perubahan perilaku manusia sebagai kunci dalam penanganan sampah. Menurutnya, permasalahan sampah akan berdampak langsung pada krisis iklim. Sampah yang tidak terkelola dengan baik akan lebih banyak menghasilkan timbunan di tempat pembuangan akhir (TPA). Apalagi, Indonesia masih menerapkan sistem open dumping yang berpotensi menghasilkan dampak negatif pada pelepasan gas metana dan kandungan berbahaya lain ke atmosfer. Oleh karena itu, Greeneration hadir dalam membantu masyarakat, dan stakeholder lainnya dalam meminimalisir dampak tersebut melalui program-program inovatif dan berkelanjutan. 

 

Dalam FGD yang diselenggarakan oleh The Climate Reality Project Indonesia, Greeneration Foundation juga memberikan beberapa usulan kebijakan terhadap pemerintah. Pertama, pemerintah perlu menyusun kebijakan atau regulasi yang dapat mendukung upaya pengurangan limbah. Kedua, pemerintah perlu menyusun standar yang mengusung prinsip-prinsip ekonomi sirkular untuk dapat diterapkan ke sektor industri agar dapat menekan laju peningkatan emisi atau gas rumah kaca. Ketiga, mendorong pemerintah lebih masif dalam mengkampanyekan gaya hidup berkelanjutan ke masyarakat luas. Keempat, pemerintah perlu mewujudkan sistem satu data persampahan yang memiliki sinkronisasi dan integrasi dengan seluruh aset dan informasi persampahan di Indonesia. Terakhir, pemerintah perlu membentuk tim khusus yang berfungsi mengawasi penerapan 5 aspek manajemen persampahan hingga level daerah. Usulan-usulan ini kemudian akan dimajukan dalam aksi friday for future bersama para policy makers pada Jumat, 25 September 2020.

Share artikel ini

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tentang Kami

Jl. Citamiang No. 6, Sukamaju, Kec. Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat 40121

Ikuti Kami:

© 2021 EcoRanger Indonesia. All Rights Reserved

Ubah Sabut Kelapa Muda Menjadi Pot Tanaman Hias

Ubah Sabut Kelapa Muda Menjadi Pot Tanaman Hias

Melihat banyaknya material organik berupa sabut kelapa muda dari para pelaku usaha di area wisata Pantai Pulau Merah menggelitik tim EcoRanger untuk mengubahnya menjadi barang yang punya nilai jual. Sabut kelapa tersebut dicacah untuk diambil serabutnya dan dijadikan pot tanaman hias.

 

Kegiatan bertajuk Recycle Day ini rutin dilakukan setiap hari Jumat dimulai pada 02 Oktober 2020 bersama tim EcoRanger Banyuwangi dan para relawan. Ke depannya, hal ini diharapkan mampu membuka lapangan kerja baru dengan memberdayakan para pemuda dan ibu-ibu di Dusun Pancer Desa Sumberagung, Banyuwangi.

Share artikel ini

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tentang Kami

Jl. Citamiang No. 6, Sukamaju, Kec. Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat 40121

Ikuti Kami:

© 2021 EcoRanger Indonesia. All Rights Reserved

KEMENPAREKRAF RI Kunjungi Pulau Merah untuk Studi Banding Pengelolaan Sampah

KEMENPAREKRAF RI Kunjungi Pulau Merah untuk Studi Banding Pengelolaan Sampah

Pada 22 Oktober 2020, Bapak M. Nurdin selaku Deputi Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenparekraf RI bersama bapak Rizal Panrelly selaku Asisten Deputi Pengelolaan Sampah dan Limbah dari Kementerian Koordinasi Kemaritiman dan Investasi bersama 10 staf Kemenparekraf dan 15 orang perwakilan pengelola wisata dan bank sampah di Banyuwangi melakukan kunjungan ke Pantai Pulau Merah dalam rangka  studi banding ke destinasi wisata yang telah menerapkan pengelolaan sampah plastik. Dalam kesempatan tersebut, tim EcoRanger berbagi tentang praktik pengelolaan sampah di area wisata pantai Pulau Merah yang merupakan salah satu icon wisata bahari di Kabupaten Banyuwangi. Tak hanya itu, rombongan diajak melihat langsung proses pemilahan sampah di Sentra Kelola Sampah yang terletak sekitar 700 meter dari area wisata. 

Kunjungan ini merupakan lanjutan dari kegiatan sosialisasi dan pemaparan draft dokumen petunjuk teknis pengelolaan sampah plastik di destinasi wisata bahari yang telah dilaksanakan pada 21 Oktober 2020 di Hotel Ketapang Indah Banyuwangi. Para peserta yang mengikuti rangkaian acara sosialisasi dan kunjungan lapangan tersebut diminta memberikan masukan agar juknis menjadi lebih implementatif. Rencananya, akan ada pilot project di beberapa lokasi di Indonesia untuk uji coba juknis yang merupakan turunan Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nomor 05 Tahun 2020 tentang pedoman pengelolaan sampah plastik di destinasi wisata  bahari.

Share artikel ini

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tentang Kami

Jl. Citamiang No. 6, Sukamaju, Kec. Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat 40121

Ikuti Kami:

© 2021 EcoRanger Indonesia. All Rights Reserved

Pentingnya Partisipasi Masyarakat (Semua Pihak dan Semua Golongan): Ekspresikan dalam “WEEKLY BEACH CLEAN UP”

Pentingnya Partisipasi Masyarakat (Semua Pihak dan Semua Golongan): Ekspresikan dalam “WEEKLY BEACH CLEAN UP”

Bersih Pantai Mingguan (Weekly Beach Clean Up)

merupakan salah satu bentuk edukasi melalui aksi nyata yang ditujukan terutama kepada pelaku usaha dan wisatawan di area wisata. Acara ini dilaksanakan rutin setiap seminggu sekali (Hari sabtu) secara bergiliran di beberapa titik rawan sampah di area wisata Pantai Pulau Merah, Pantai Mustika, dan Pantai Wedi Ireng sebagai destinasi wisata utama di Dusun Pancer Desa Sumberagung Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi.

Dalam acara ini, peserta diajak bersama-sama memungut sampah anorganik di lokasi bersih pantai untuk kemudian belajar memilah sampah anorganik yang masih dapat didaur ulang dan yang tidak dapat diolah (residu). Pada kegiatan tersebut, peserta juga diajak merenungkan masa depan lingkungan dan pariwisata apabila tidak dilakukan pengelolaan sampah mulai sekarang!

 

MENGAPA PERLU “WEEKLY BEACH CLEAN UP”?

Sampah di area pantai tidak hanya berasal dari kegiatan manusia di darat, namun juga di laut. Setiap tanggal 13-17 kalender Jawa ketika terjadi pasang tertinggi, sampah kiriman (sampah dari laut) akan banyak ditemukan di bibir pantai. Sampah tersebut pada dasarnya juga berasal dari aktivitas manusia yang membuang sampah di sungai. Untuk kasus Dusun Pancer, sebagian warga masih membuang sampah di Sungai Cacalan yang akan mengalir ke muara sungai dan berakhir ke laut.

 

APA TUJUAN MENGADAKAN “WEEKLY BEACH CLEAN UP”?

Kegiatan rutin ini dilakukan sebagai bentuk edukasi pengelolaan sampah, terutama supaya para pelaku usaha, wisatawan, serta relawan secara aktif berpartisipasi untuk menjaga kebersihan area wisata dan memahami serta mempraktikkan pemilahan sampah di sumber. Apabila pemilahan sampah di sumber dapat 100% dijalankan, maka akan sangat membantu kinerja Sentra Kelola Sampah (SEKOLA) EcoRanger 1.0 dalam hal pengolahan sampah organik dan anorganik.

Share artikel ini

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tentang Kami

Jl. Citamiang No. 6, Sukamaju, Kec. Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat 40121

Ikuti Kami:

© 2021 EcoRanger Indonesia. All Rights Reserved

EcoRanger X ScrapCap

EcoRanger X ScrapCap

(Kolaborasi Antara Greeneration Foundation & ShoutCap)

ShoutCap sebagai brand yang merupakan bagian dari sebuah workshop pembuatan topi sadar bahwa dari proses produksi, workshop sering kali mempunyai surplus material berupa sisa bahan baku yang tidak habis terpakai, yang jika tidak dimanfaatkan akan menjadi limbah. Berkaitan dengan hal itu, ShoutCap membuat program LESS WASTE dengan memanfaatkan surplus material (scrap) tersebut untuk mengurangi sampah yang dihasilkan dari proses produksi, dengan merilis sebuah lini produk yang diberi nama SCRAPCAP.

Sesuai namanya, SCRAPCAP diproduksi dari surplus material yang masih bisa diproses, dari mulai bahan utama (kain) hingga bahan baku pelengkap (asesoris). Tujuannya adalah untuk menghasilkan sesedikit mungkin sisa bahan baku yang dibuang. Karena SCRAPCAP menggunakan hampir 95% surplus material, model topi didesain sesuai karakter bahan dan jumlahnya terbatas (limited edition).

Sebagai brand yang sedang belajar untuk peduli lingkungan, ShoutCap berkolaborasi dengan Greeneration Foundation mendukung salah satu aktivitas program EcoRanger di Banyuwangi yang sedang berjalan yaitu WEEKLY BEACH CLEAN UP, dengan mendonasikan 20% dari hasil penjualan SCRAPCAP untuk membantu operasional aktivitas ini.

EcoRanger Banyuwangi merupakan salah satu program utama Greeneration Foundation yang berlokasi di Pulau Merah. 15 EcoRanger yang dilatih dan dibina guna menjadi tim keren penjaga lingkungan demi mewujudkan Pulau Merah yang bersih dan berkelanjutan.

 

Setiap Pembelian ScrapCap Kamu Sudah Ikut Membantu EcoRanger Banyuwangi Melakukan Weekly Clean Up& Pengelolaan Sampah di SEKOLA (Sentra Kelola Sampah)

Dalam upaya mewujudkan cita-cita besar pariwisata bekelanjutan. Aktivitas Weekly Clean Updilakukan rutin oleh EcoRanger di Banyuwangi setiap minggu. Selain untuk menjaga Kawasan Pulau Merah tetap bersih, aktivitas ini juga sebagai media langsung untuk mengajak masyarakat dan pengunjung di Pulau Merah dalam meningkatkan rasa tanggung jawab menjaga kebersihan lokasi pariwisata.

Tidak berhenti di sana, EcoRanger di Banyuwangi juga saat ini mengembangkan SEKOLA (Sentra Kelola Sampah) sebagai lokasi utama pengelolaan sampah hasil Weekly Clean Up. Sehingga, sampah yang terkumpul tidak dibuang begitu saja ke pembuangan akhir, namun ada proses pengelolaan yang dilakukan. Mulai dari pemilahan sesuai kategori jenis sampah, pemanfaatan sampah yang masih dapat didaur ulang, hingga komposting untuk sampah organik.

Ayo dukung EcoRanger di Banyuwangi dalam mengemban tugas nya. Setiap pembelian SCRAPCAP yang Anda lakukan sudah ikut serta mendukung terwujudnya upaya pengelolaan sampah berkelanjutan yang dilakukan EcoRanger di Banyuwangi.

 

Tentang Greeneration Foundation

Greeneration Foundation (GF) adalah organisasi non-profit, yang bekerja pada isu-isu berkelanjutan serta berfokus dalam memanfaatkan media kreatif adaptif untuk mengubah perilaku manusia untuk meningkatkan Konsumsi dan Produksi Berkelanjutan (SCP). Greeneration Foundation didirikan di Bandung, Jawa Barat pada. Kami memperkuat kegiatan kami dengan melibatkan kolaborasi Bersama pemerintah, organisasi dan komunitas yang berfokus pada lingkungan, juga menghubungkan komunitas yang lebih luas mulai dari individu, anak-anak, ibu rumah tangga hingga profesional.

 

Tentang ShoutCap

ShoutCap adalah sebuah brand yang lahir tahun 2013 dari sebuah workshop pembuatan topi yang sudah berdiri sejak tahun 2006. Sebelum ShoutCap lahir workshop sudah mengerjakan pesanan topi dari berbagai brand, event dan perusahaan dari skala lokal hingga internasional hingga saat ini.

ShoutCap lahir sebagai brand dengan konsep PERSONALIZED MEDIA, topi yang dapat digunakan sebagai media personal untuk mengekspresikan diri, menyampaikan pesan bagi pemiliknya. Baik dalam bentuk text maupun gambar. Kami menyebutnya WEARABLE MEDIA. Hingga saat ini baik ShoutCap maupun workshop tetap berjalan seiring waktu.

Melalui SCRAPCAP semoga ShoutCap bisa konsisten ikut serta dalam usaha mengelola sampah dan mengurangi sampah khususnya sampah industri di Indonesia.

Share artikel ini

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tentang Kami

Jl. Citamiang No. 6, Sukamaju, Kec. Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat 40121

Ikuti Kami:

© 2021 EcoRanger Indonesia. All Rights Reserved

Quick Count Sampah, di TPS Pulau Merah Banyuwangi

Quick Count Sampah, di TPS Pulau Merah Banyuwangi

Bertepatan dengan peringatan Hari Bumi 22 April lalu, sebanyak 38 warga Dusun Pancer Desa Sumberagung Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi bersama tim EcoRanger gotong royong melakukan penataan dan menghitung cepat timbulan sampah yang selama ini telah tertumpuk di Tempat Pembuangan Sampah Pulau Merah.

EcoRanger adalah program yang digagas oleh Greeneration Foundation yang juga berfokus pada pengelolaan sampah berbasis masyarakat di area pariwisata, dalam hal ini Dusun Pancer yang memiliki 3 (tiga) wisata pantai yang sedang berkembang, yaitu Pantai Pulau Merah, Pantai Mustika, dan Pantai Wedi Ireng.

Dari kegiatan pemindahan sampah, setidaknya 13.125 m3 sampah atau sekitar 2.187,5 ton sampah berhasil diangkut dalam sehari dari TPS Pulau Merah ke TPA Banyuwangi.

Kegiatan ini dilakukan untuk mengajak warga melihat kondisi nyata dan merenungkan nasib sampah di TPS jika sampah hanya ditumpuk dan dibiarkan begitu saja tanpa ada pengelolaan yang baik dan benar. Dari kegiatan ini, diharapkan warga tergugah untuk mulai melakukan pemilahan sampah di sumbernya, yaitu tiap-tiap rumah dan tempat usaha.

Disamping itu, EcoRanger juga tengah menyiapkan sebuah solusi yaitu Sentra Kelola Sampah (SEKOLA EcoRanger Desa Sumberagung) yg pada saat ini berlangsung tahap pembangunan.

Share artikel ini

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tentang Kami

Jl. Citamiang No. 6, Sukamaju, Kec. Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat 40121

Ikuti Kami:

© 2021 EcoRanger Indonesia. All Rights Reserved