Category Archives: Collaboration

Kolaborasi Multipihak Mengajak Para Stakeholders BCA Digital Menjadi Pejuang Lingkungan

Kolaborasi Multipihak Mengajak Para Stakeholders BCA Digital Menjadi Pejuang Lingkungan

Jumat, 20 Agustus 2021 –  Krisis persampahan di Indonesia masih belum terselesaikan. Indonesia merupakan penyumbang sampah makanan terbesar kedua di dunia, juga penyumbang sampah plastik di laut terbesar kedua di dunia. Dalam negeri sendiri, berbagai fasilitas pembuangan sampah terancam kelebihan kapasitas pada 2021. Setiap tahunnya, Indonesia menghasilkan 6,8 juta ton sampah plastik dan 9%-nya atau sekitar 620 ribu ton masuk ke sungai, danau, dan laut. Menyadari urgensi ini, blu by BCA Digital berkolaborasi dengan Kitabisa dan program EcoRanger dari Greeneration Foundation melaksanakan #blubuatbaik Sharing Session pada 20 Agustus 2021 secara virtual. Seperti apa keseruan belajar di Sharing Session? Mari cari tahu bersama!

 

      (Foto 1. Duardi Prihandiko/Dokumentasi                               Greeneration Foundation)

Misi #blubuatbaik Selamatkan Indonesia Dari Krisis Sampah

#blubuatbaik adalah sebuahnya kampanye yang digaungkan blu di tahun 2021 dan merupakan bagian dari program jangka panjang corporate sustainability initiative BCA Digital. Membawakan tema “Jadi Pejuang Untuk Lingkungan dan Bumi”, sharing session ini diperuntukkan bagi karyawan BCA Digital. Melalui kegiatan ini, seluruh tim BCA Digital diharapkan bisa belajar mengenai seluk beluk permasalahan polusi sampah plastik yang mengancam ekosistem alam sekaligus mempraktikkan gaya hidup yang ramah lingkungan dan lebih memperhatikan sustainability.

 

Strategi BCA Digital Lewat #blubuatbaik Jalin Kerjasama dengan Greeneration Foundation dan KITABISA

Membuka sharing session ini, Duardi Prihandiko selaku Head of Marketing Communication BCA Digital menyampaikan, “blu mempunyai misi untuk hadir sebagai impact-oriented technology. Sejak awal, kami berkomitmen untuk memastikan kehadiran blu memberikan dampak positif yang menjamin keberlanjutan bumi, yang merupakan rumah kita bersama. Kami paham bahwa kami tidak bisa melakukan ini sendirian, maka dari itu blu berkolaborasi dengan para mitra yang memiliki semangat dan visi yang sama, yaitu Greeneration Foundation dan KITABISA.”

 

“Lewat kampanye #blubuatbaik, blu mengajak para nasabah BCA Digital dan teman-teman semua untuk ikut turun tangan dalam menjaga lingkungan kita dari ancaman sampah plastik. Harapannya di penghujung tahun 2021 nanti, kita bisa mengurangi sampah residu hingga 30.000 kilogram, meningkatkan persentase daur ulang sampah organik dan anorganik hingga 198.800 kilogram, serta mengurangi emisi karbon hingga 303.000 metrik kilogram karbondioksida,” tambah Duardi.

 

BCA Digital akan berdonasi Rp 1.000 dari dana CSI (Corporate Sustainability Initiative) atas nama setiap nasabah baru yang berhasil membuka rekening blu sepanjang tahun 2021, pada platform KITABISA. Hasil fundraising tersebut akan di optimalisasikan oleh Greeneration Foundation lewat Program EcoRanger dalam menerapkan pengelolaan sampah yang baik di Banyuwangi. 

Jadi Pejuang Sampah Bersama #blubuatbaik

Beberapa hal yang dibahas dalam sharing session ini adalah solusi yang dapat dilakukan setiap individu untuk mengatasi masalah sampah plastik agar menjadi pejuang untuk melindungi bumi dan lingkungan sekitar. Selain itu, dipaparkan pula contoh aksi kolaborasi yang dilakukan EcoRanger di Banyuwangi untuk meningkatkan pemilahan sampah dari sumber beserta pendampingan masyarakat, penyediaan fasilitas pengelolaan sampah, edukasi, dan kolaborasi multistakeholder.

 

Fakta Permasalahan Sampah di Indonesia

Melalui pemaparan materi yang disampaikan, Siti Muyasaroh selaku Site Coordinator EcoRanger Banyuwangi menyampaikan bahwa, “Permasalahan sampah menjadi urgensi yang harus diselesaikan segera. Hingga saat ini, Indonesia bahkan menjadi negara ke-2 dengan bencana sampah yang paling mematikan di Dunia. Bahkan, 90% sampah plastik di Indonesia tidak didaur ulang. Padahal, semua orang punya tanggung jawab yang sama untuk menyelesaikan masalah ini.”

Dampak dari Krisis Sampah di Indonesia

Berdasarkan fakta yang dipaparkan Siti Muyasaroh mengenai permasalahan sampah yang masyarakat Indonesia hadapi tak bisa dianggap sepele. Dampak nyata dari permasalahan ini sudah terlihat jelas dari meningkatnya pencemaran lingkungan dan perubahan iklim. Oleh karena itu, beliau mengajak setiap orang untuk memulai langkah perubahan kecil dengan menerapkan gaya hidup ramah lingkungan dengan cara membiasakan diri menghindari penggunaan plastik sekali pakai, melakukan pemilahan sampah dari rumah, dan mendaur ulang sampah.

Dukungan #blubuatbaik Untuk EcoRanger Tangani Sampah di Banyuwangi

Kampanye #blubuatbaik yang mendukung kegiatan pengelolaan sampah EcoRanger di Banyuwangi juga mendukung gaya hidup ramah lingkungan masyarakat dengan menyelesaikan masalah sampah dari sumbernya. Siti Muyasaroh berharap program ini turut menjadi langkah bersama mewujudkan cita-cita Indonesia bebas sampah 2025. 

Tak hanya Sharing Pengetahuan Peserta Ikuti Challenge Hidup Ramah Lingkungan

Tak cukup hanya mempelajari permasalahan sampah secara teori melalui seminar interaktif, peserta juga akan menerapkan hasil belajarnya dalam kehidupan sehari-hari dengan mengikuti 5 Days Challenge. Pada challenge ini, peserta ditantang untuk menerapkan gaya hidup ramah lingkungan terkait pengurangan dan pengelolaan sampah plastik. Peserta diminta untuk mengabadikan dan membagikan cerita di balik challenge yang dilakukan di kanal media sosial Instagram masing-masing. Tiga peserta dengan cerita paling menarik mendapatkan apresiasi khusus. 

 

                (Foto 2. Sesi Diskusi/Dokumentasi                                    Greeneration Foundation)

Tentunya masih banyak aksi lain yang akan dilakukan ke depannya agar Greeneration Foundation melalui program EcoRanger bersama blu by BCA Digital dan Kitabisa demi mencapai keberhasilan dalam meningkatkan pemilahan sampah dari sumber untuk bumi yang lebih baik.

 

Apesiasi Dari Kitabisa

“Kitabisa sangat mengapresiasi inisiatif baik dari BCA Digital melalui program #blubuatbaik dalam langkah menyelamatkan lingkungan. Semoga aksi gotong royong yang dilakukan antara nasabah BCA Digital, Karyawan BCA Digital serta dan Orangbaik lainnya diharapkan dapat membantu menyadarkan masyarakat akan pentingnya menjaga bumi kita melalui aksi kecil yang dapat dilakukan sehari-hari,” ungkap Marisa Thara Wardhani, Head of Brand Partnership Kitabisa.

Greeneration Foundation Siap Beraksi Melalui EcoRanger

Rangkaian kolaborasi tiga pihak ini juga mendapat apresiasi dan dukungan penuh dari Direktur Eksekutif Greeneration Foundation, Vanessa Letizia. “Aksi kolaborasi BCA Digital, Kitabisa, Greeneration Foundation, dan EcoRanger dalam Kampanye #blubuatbaik merupakan kolaborasi yang epik. Kolaborasi ini mendukung rangkaian pengembangan program EcoRanger di Banyuwangi. Selaras dengan misi Greeneration Foundation, #blubuatbaik akan membantu kami mengkampanyekan gaya hidup berkelanjutan untuk bumi yang lebih baik” tutup Vanessa.

Share artikel ini

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tentang Kami

Jl. Citamiang No. 6, Sukamaju, Kec. Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat 40121

Ikuti Kami:

© 2021 EcoRanger Indonesia. All Rights Reserved

Rethinking Plastics: Masa Depan Laut Indonesia Bersih Cemerlang

Rethinking Plastics: Masa Depan Laut Indonesia Bersih Cemerlang

Penulis: Aviaska Wienda Saraswati

Proyek Rethinking Plastics

Jakarta, 30 Juni 2021Aksi nyata meningkatkan pengelolaan sampah di Indonesia terus digencarkan para pegiat lingkungan demi mengejar ketertinggalan dalam mengatasi dampak yang ditimbulkan masalah sampah terhadap lingkungan. Proyek Rethinking Plastics: Circular Economy Solution to Marine Litter hadir membawa angin segar untuk mempercepat upaya mengatasi permasalahan sampah melalui sistem ekonomi sirkular. Proyek Rethinking Plastics bertujuan untuk mendorong percepatan penerapan konsumsi dan produksi plastik yang berkelanjutan dalam rangka menanggulangi sampah plastik di laut Indonesia, di Kawasan Asia Timur dan Tenggara.  Empat pilot project dari Proyek ini di launching pada 30 Juni 2021.

        (Foto 1. Sambutan dari Pascal Renauld)

 

Kekuatan Kolaborasi

Proyek Rethinking Plastics yang didanai oleh Uni Eropa dan Pemerintah Jerman dilaksanakan oleh Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ). Tentunya, GIZ tidak bergerak sendiri. GIZ berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, pemerintah indonesia, dan organisasi masyarakat. Langkah kolaborasi dipilih demi memperluas dampak terhadap lingkungan secara cepat dan masif. Harapannya, kolaborasi dapat menciptakan ruang bersama untuk saling mendukung aksi nyata pengelolaan sampah laut Indonesia. Dalam proyek ini, GIZ akan bergandengan tangan dengan program EcoRanger dari Greeneration foundation, Center for Southeast Asian Studies (CSEAS) Indonesia, Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia, dan Making Oceans Plastic Free (MOPF).

EcoRanger Bergerak Bersama Nelayan

Tak ingin kehilangan kesempatan untuk berkontribusi memberikan aksi untuk laut Indonesia, EcoRanger bergerak bersama nelayan dalam kegiatan Fishing For Litter. Kegiatan ini akan dilaksanakan pada April 2021-2022 di Dusun Pancer Banyuwangi, Jawa Timur, Indonesia. Melalui Fishing For Litter, EcoRanger akan memberdayakan dan membangun kebiasaan nelayan lokal untuk mengelola sampah laut mulai dari mengumpulkan hingga mengolah sampah laut. Peran nelayan sangat penting karena mereka adalah kelompok yang menghadapi dan terdampak permasalahan sampah laut secara langsung.

              (Foto 2. Sambutan dari Henriette)

Pemerintah Menyambut Baik Aksi Untuk Laut Indonesia

Aksi nyata untuk laut Indonesia Ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah Uni Eropa dan Indonesia. Dalam acara launching ini, mereka mendeklarasikan dukungan dan harapan hasil baik dari proyek Rethinking Plastics: Circular Economy Solution to Marine Litter. Henriette Faergemann, Konselor bidang Lingkungan Hidup, Iklim dan ICT, Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia, dalam sambutannya; menyampaikan apresiasi kepada keempat pelaksana kegiatan percontohan, pemerintah daerah serta berbagai pihak yang akan membantu mensukseskan proyek ini. Keempat proyek percontohan ini akan membawa misi besar dan harapan pengelolaan sampah laut melalui ekonomi sirkuler yang dapat menginspirasi berbagai gerakan di daerah lain. 

Rofi Alhanif, Asisten Deputi Pengelolaan Sampah dan Limbah, Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Indonesia berharap proyek Rethinking Plastics dapat menjadikan indonesia yang lebih bersih dan sehat sebagai aksi nyata yang didukung oleh mitra global dari Uni Eropa dan GIZ.

            (Foto 3. Sambutan dari Rofi Alhanif)

Adanya proyek percontohan di masing-masing daerah di Indonesia ini, pemerintah daerah sangat berterima kasih pada keempat pelaksana proyek percontohan, pemerintah Uni Eropa, dan GIZ karena telah memulai langkah inisiatif menjaga kebersihan laut Indonesia. Mereka yang mengungkapkan rasa syukurnya adalah  Pemerintah Daerah Banyuwangi (Hardiono),  Pemerintah Daerah Jawa Tengah (Fendiawan Tiskiantoro),  Pemerintah Daerah Kabupaten Malang (Renung Rubiyatadji), dan Pemerintah daerah Lombok Barat (Muzapir).

Launching proyek percontohan Rethinking Plastics ini menjadi momentum memulai aksi untuk menjaga kebersihan laut Indonesia. Tantangan yang akan dihadapi ke empat institusi pelaksana proyek telah menanti. Bersama-sama, semua menjalankan solusinya untuk laut Indonesia.

 

Share artikel ini

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tentang Kami

Jl. Citamiang No. 6, Sukamaju, Kec. Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat 40121

Ikuti Kami:

© 2021 EcoRanger Indonesia. All Rights Reserved

Danau Toba Butuh Aksi Nyata Pengelolaan Sampah Berkelanjutan

Versi English

Danau Toba Butuh Aksi Nyata Pengelolaan Sampah Berkelanjutan

EN Version

Penulis: Aviaska Wienda Saraswati

Bandung, 11 Juni 2021- Danau Toba, Siapa yang tidak kenal dengan salah satu danau tersohor di dunia ini. Terletak di provinsi Sumatera Utara, Danau Toba merupakan danau vulkanik terbesar di dunia karena luasnya lebih dari 1.145 kilometer persegi dengan kedalaman 450 meter. Uniknya, saking luasnya danau ini, lebih menyerupai lautan dengan Pulau Samosir di tengahnya. Kemasyhuran ini tentunya membuka potensi besar pertumbuhan sektor pariwisata. Bagaimana tidak, pemandangan alam yang indah, kekayaan budaya lokal, dan lezatnya kuliner khas Toba pasti membuat wisatawan tidak bisa menolak untuk mengunjungi Danau Toba.  Menyadari potensi besar yang dimiliki Danau Toba, Pemerintah menjadikan danau ini sebagai salah satu dari 5 Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) super prioritas.

Sebagai salah satu kawasan KSPN super prioritas, tentunya pemerintah merencanakan pembangunan sektor pariwisata yang masif di Danau Toba. Namun, sayangnya perkembangan sektor pariwisata pasti sejalan dengan peningkatan kerusakan lingkungan yang diakibatkan sampah aktivitas pariwisata.

                        Foto 1. Peserta ETS 3.0 
            (Dokumentasi Community Empowerment)

Masyarakat tentunya sudah berupaya untuk mencegah kerusakan lingkungan akibat aktivitas pariwisata. Namun, masih dibutuhkan lebih banyak aksi yang berkelanjutan dalam menjaga kelestarian lingkungan Danau Toba dari aktivitas pariwisata. Tak hanya masyarakat, pemerintah, komunitas lingkungan, dan wisatawan juga harus terlibat untuk mendukung masyarakat membangun pariwisata berkelanjutan di Danau Toba.

Melihat keresahan ini, Program EcoRanger dari Greeneration Foundation tergugah untuk mengenal lebih dekat permasalahan pengelolaan sampah di Danau Toba. Sebagai langkah awal, EcoRanger membuka sarana diskusi untuk mengupas pengelolaan sampah di Desa Wisata Danau Toba melalui EcoRanger Talkshow Series 3.0 (ETS 3.0) pada 10 Juni 2021. ETS 3.0 hadir dengan tema “Menilik Pengelolaan Sampah Desa Wisata di Kawasan Strategis Pariwisata Nasional Danau Toba, Sumatera Utara” dan mengundang berbagai aktor lokal dalam bidang pariwisata dan pengelolaan sampah seperti, Armawati Chaniago (tokoh penggerak bank sampah asal Medan), Ojax Manalu (Founder sekaligus Direktur Rumah Karya Indonesia), Irwansyah Putra (Koordinator Fasilitas Pelaksanaan Pemanfaatan Dana Desa, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi), dan Surana, MBA (Koordinator Peningkatan Kompetensi SDM Pariwisata, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif). 

Masing-masing pembicara membuka fakta dengan menyampaikan gagasannya terkait permasalahan yang terjadi. Armawati Chaniago menyatakan bahwa, “KSPN Danau Toba harus segera memiliki strategi untuk mengatasi sampah di desa wisata Danau Toba. Masalah ini tidak bisa ditunda untuk diselesaikan karena volume sampah lebih besar daripada kontainer sampah.” Ojax Manalu mengungkapkan, “Membangun pariwisata yang berkelanjutan itu tidak melulu hanya membicarakan strategi. Ada aspek yang tak kalah penting dan tidak boleh terlewatkan yaitu membangun budaya di masyarakat untuk bergerak bersama mengembangkan pariwisata berkelanjutan.”

         Foto 2. Pemaparan Materi dari Ojax Manalu 
           (Dokumentasi Community Empowerment)

Tak hanya aktor lokal penggerak pariwisata dan pengelolaan sampah, dari pihak pemerintah pun turut menyampaikan gagasannya. Irwansyah Putra mengatakan, “Dalam membangun desa wisata, kita harus dukung aparatur desa, semua orang di desa memiliki keterbatasan, disitulah kita sebagai pegiat lingkungan bisa membantu memberdayakan mereka. Supaya kita bisa membawa perubahan agar desa lestari dan dan dapat menunjang perekonomian masyarakat Indonesia”. Surana, MBA  menegaskan, “Sekarang ini muncul tren baru dalam dunia  pariwisata paska pandemi. Dimana kompetensi CHSE menjadi aspek yang sangat penting untuk dimiliki destinasi wisata, termasuk desa wisata. Dalam pengembangan pariwisata butuh keterlibatan baik dari masyarakat, komunitas, dan pemerintah. Poin penting yang harus kita pegang dalam mengembangkan pariwisata adalah kita harus mengembalikan lingkungan dan alam karena kita hanya meminjam dari anak cucu kita dan harus mengembalikan seperti sedia kala.”

               Foto 3. Pemaparan Materi dari Surana, MBA 
           (Dokumentasi Community Empowerment)

Gagasan yang muncul dalam forum diskusi ini baik dari pembicara maupun peserta alangkah baiknya memicu berbagai pihak untuk melakukan langkah perubahan demi terwujudnya pariwisata berkelanjutan. Tentu setidaknya masyarakat lokal, pemerintah daerah, wisatawan dan komunitas lokal bisa memulai langkah ini segera, karena merekalah yang memahami dan menyaksikan langsung permasalahan yang terjadi. Langkah awal ini yang nantinya akan membuka kesempatan kolaborasi secara nasional maupun internasional untuk keberlanjutan desa wisata Danau Toba.

Share artikel ini

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tentang Kami

Jl. Citamiang No. 6, Sukamaju, Kec. Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat 40121

Ikuti Kami:

© 2021 EcoRanger Indonesia. All Rights Reserved

BISA! Greeneration Foundation Siap Dukung Kemenparekraf RI Mewujudkan Pariwisata Berkelanjutan

BISA! Greeneration Foundation Siap Dukung Kemenparekraf RI Mewujudkan Pariwisata Berkelanjutan

Bali, Senin - Selasa, 22 - 23 Maret 2021- Melalui Focus Group Discussion (FGD) yang diadakan di Politeknik Pariwisata Bali, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia (Kemenparekraf RI) membuka forum diskusi untuk pengembangan Program BISA (Bersih, Indah, Sehat, Aman) dalam mengembangkan potensi pariwisata Indonesia. Pada diskusi ini, hadir  Sandiaga Uno (Menteri Parekraf RI) dan Ir. Rizki Handayani, MBTM (Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Baparekraf) dari Kemenparekraf RI. Kegiatan ini juga dihadiri beberapa perwakilan Non Government Organization (NGO) sebagai kolaborator penyusunan program BISA, Jibriel Firman Sofyan (Greeneration Foundation), perwakilan Divers Clean Action, dan perwakilan Parongpong.

Foto 2. Greeneration Foundation mempresentasikan program EcoRanger (Dokumentasi Pemberdayaan Masyarakat)

Melalui FGD ini, para kolaborator memperkenalkan dan memaparkan capaian dari masing-masing programnya sebelum menyusun Logical Framework Analysis (LFA) program BISA yang akan dilaksanakan dalam jangka waktu 3-6 bulan. Dalam menyusun LFA, kerangka berpikir yang diadopsi adalah  program EcoRanger yang fokus ke permasalahan waste management di destinasi wisata. Hal ini selaras dengan Program BISA yang ingin menitik beratkan pada pengembangan waste management destinasi wisata Indonesia.

Foto 3. Kunjungan ke TPST Tulamben, Bali (Dokumentasi Pemberdayaan Masyarakat)

Selain membahas LFA sebagai konsep dasar Program Bisa, Kemenparekraf RI dan kolaborator  juga melakukan kunjungan ke Tulamben, Bali Timur. Tulamben menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan yang berkunjung ke Bali Timur. Wisata andalan Tulamben adalah spot Diving yang unik dan menarik. Spot diving di Tumbalen aksesnya mudah dijangkau wisatawan dan terdapat bangkai kapal karam. Di Tulamben, Kemenparekraf RI dan kolaborator berkunjung ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) yang sedang mendapat pendampingan dari Divers Clean Action.

Foto 4. Hasil pengolahan sampah di TPS Tulamben, Bali (Dokumentasi Pemberdayaan Masyarakat)

Melalui kegiatan ini kolaborator memberikan gambaran kepada Kemenparekraf RI mengenai permasalahan pengelolaan sampah di destinasi wisata Indonesia. Dengan lebih memahami permasalahan yang terjadi di lapangan, harapannya Kemenparekraf RI menyadari pentingnya pembangunan infrastruktur pengelolaan sampah dan pemberdayaan masyarakat dalam bidang pengelolaan sampah di destinasi wisata Indonesia. Program BISA diharapkan menjadi implementasi pembangunan pariwisata Indonesia yang berkelanjutan.

Share artikel ini

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tentang Kami

Jl. Citamiang No. 6, Sukamaju, Kec. Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat 40121

Ikuti Kami:

© 2021 EcoRanger Indonesia. All Rights Reserved

Mencari Inovasi! Ajang Creative Idea Competition Menggugah Kreativitas Inisiator Muda Atasi Masalah Pengelolaan Sampah Destinasi Wisata

Mencari Inovasi! Ajang Creative Idea Competition Menggugah Kreativitas Inisiator Muda Atasi Masalah Pengelolaan Sampah Destinasi Wisata

Banyuwangi, 19 Desember 2021 - Masalah pengelolaan sampah seperti tak ada habisnya untuk diperbincangkan. Bagaimana tidak? Tiap tahun jumlah sampah yang dihasilkan manusia semakin meningkat. Namun, pemecahan solusi pengelolaannya tidak berjalan seiringan. Kalau sudah begini, inovasi dan kolaborasi tentu menjadi aspek yang sangat fundamental dalam merumuskan solusi pengelolaan sampah, terutama sampah di destinasi wisata Indonesia. Berangkat dari kegelisahan ini, EcoRanger berusaha untuk memberikan wadah bagi para inovator yang bergerak di bidang pengelolaan sampah untuk menyampaikan gagasan kreatifnya terkait kegiatan dan model bisnis dalam menangani pengelolaan sampah melalui ajang Creative Idea Competition. Melalui ajang ini, EcoRanger berharap dapat membuka peluang kolaborasi dalam pengembangan sociopreneurship program Sentra Kelola Sampah (SEKOLA) dalam mengelola sampah di destinasi wisata.

Foto 1. Pemberian penghargaan kepada Aqilah Nurul K. L. (Dokumentasi Pemberdayaan Masyarakat)

Rangkaian dari kegiatan ini dimulai dengan pembukaan pendaftaran peserta. Peserta yang mengikuti kompetisi ini juga difasilitasi sesi sosialisasi dan konsultasi yang dilaksanakan via online. Dari kegiatan ini terkumpul 49 proposal yang terdiri dari 40 proposal kegiatan dan 9 proposal bisnis. Penentuan pemenang kegiatan ini telah melalui 3 tahap proses penjurian. Peserta yang berhasil memenangkan kompetisi ini dari kategori kegiatan adalah Aqilah Nurul Khaerani Latif (Juara 1), NECC Project (Juara 2), dan Gajahlah Kebersihan (Juara 3). Sedangkan pemenang untuk kategori model bisnis adalah: Nurul Azizah Kusumaningrum (Juara 1), Dearizky Ramadhan (Juara 2), dan Buntah.ID (Juara 3).

Foto 2. Memberikan penghargaan kepada Buntah.ID (Dokumentasi Pemberdayaan Masyarakat)

Seremonial penyerahan hadiah kepada peserta dilakukan bersamaan dengan EcoRanger Talkshow Series 2.0 yang dilaksanakan pada tanggal 25 Februari 2021. Kegiatan EcoRanger Talkshow Series 2.0 dapat disaksikan di link berikut: Live YouTube ETS 2.0 . Tak hanya itu, tim Community Empowerment juga memfasilitasi pemenang untuk menciptakan peluang kolaborasi melalui forum diskusi bersama. Harapannya, melalui forum diskusi, tim bisa membantu para pemenang untuk mengajukan proposal kegiatan ke instansi-instansi terkait. 

Foto 3. Pemberian penghargaan kepada Wageku (Dokumentasi Pemberdayaan Masyarakat)

Semakin banyak peluang kolaborasi yang tercipta, tentunya dapat meningkatkan efektifitas dalam  berupaya mengelola sampah, terutama sampah di destinasi wisata. Karena mengelola sampah tak semudah memproduksi dan membuangnya. Melalui program EcoRanger, tim Community Empowerment akan selalu berupaya mewujudkan pariwisata berkelanjutan dengan menangani masalah pengelolaan sampah di destinasi wisata. Tentunya, dalam berupaya kami membutuhkan dukungan dari seluruh pihak untuk mendukung program kami. Kamu juga bisa berupaya membantu terwujudnya sistem pengelolaan sampah yang baik di destinasi wisata Indonesia dengan berdonasi ke link Donasi berikut. Bersama lebih baik daripada sendiri.

Share artikel ini

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tentang Kami

Jl. Citamiang No. 6, Sukamaju, Kec. Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat 40121

Ikuti Kami:

© 2021 EcoRanger Indonesia. All Rights Reserved

Ecoranger Talkshow Series 2.0 “Kolaborasi” Menjawab Polemik Sampah di Destinasi Wisata Indonesia

Ecoranger Talkshow Series 2.0 “Kolaborasi” Menjawab Polemik Sampah di Destinasi Wisata Indonesia

Bandung, 25 Februari 2021 - Dalam rangka memperingati Hari Peduli Sampah Nasional yang jatuh pada tanggal 21 Februari 2021, Divisi Community Empowerment Greeneration Foundation mengadakan kelanjutan dari EcoRanger Talkshow Series 1.0 yaitu EcoRanger Talkshow Series 2.0 (ETS 2.0). Kali ini ETS 2.0 hadir dengan tema Polemik Permasalahan Sampah di Destinasi Wisata “Apakah Pengelolaan Sampah Menjadi Kunci Utama Pariwisata Berkelanjutan?”. Untuk memberi pengetahuan yang mendalam terkait isu sampah di destinasi wisata Indonesia, ETS 2.0 menghadirkan pembicara yang kompeten di bidangnya seperti Ir. Rizki Handayani, MBTM (Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Baparekraf Kemenparekraf RI), Ir. Renung Rubiyatadji, MM (Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLH Kabupaten Malang), Abizar Ghiffary (Network Facilitator Divers Clean Action), dan Arifin Putra (Aktor Indonesia). Antusiasme yang besar juga datang dari para peserta, sebanyak 189 orang telah mengikuti kegiatan ini. Tak hanya menerima ilmu dari para pembicara, peserta ETS 2.0 juga sangat aktif terlibat dalam diskusi. Peserta sangat bersemangat untuk menyampaikan aspirasi mereka dan mengulik informasi lebih dalam dari pembicara terkait isu persampahan di destinasi wisata Indonesia.

Gambar 2. Sesi diskusi dengan Arifin Putra (Dokumentasi Pemberdayaan Masyarakat)

Indonesia mengandalkan sektor pariwisata sebagai salah satu sumber pemasukan negara yang terbesar. Bermodalkan kekayaan alam dan kebudayaan yang dimiliki, sektor pariwisata Indonesia semakin berkembang pesat. Namun, perkembangan sektor pariwisata tidak selaras dengan kesadaran akan isu lingkungan yang timbul di destinasi wisata Indonesia. Salah satu isu yang masih jadi polemik adalah permasalahan sampah. Hal ini juga di amini oleh Arifin Putra, salah satu aktor Indonesia yang peduli dan aktif bergerak dalam kegiatan pelestarian lingkungan, ia mengungkapkan, “Pariwisata sangat penting karena banyak daerah yang bergantung pada sektor pariwisata untuk menjalankan aktivitas ekonomi. Namun, semakin berkembangnya sektor wisata juga bisa membawa banyak masalah lingkungan. Masyarakat pun tidak memiliki kesadaran bahwa masalah lingkungan, terutama tentang sampah ini penting untuk diselesaikan”.

Gambar 3. Sesi diskusi dengan Rubiyatadji dan Abizar Ghiffary's Reflections

Sebagai contoh dari permasalahan sampah di destinasi wisata, Abizar Ghiffary menyampaikan bahwa, “Salah satu contoh permasalahan adalah sampah di destinasi wisata terjadi di perairan Tanjung Karang yang menjadi destinasi wisata selam Palu. Saat saya menyelam, saya menemukan banyak sampah yang menutupi terumbu karang. Selain itu, terumbu karang juga rusak akibat jangkar kapal.” Oleh karena itu, beliau mengatakan penting untuk mengembangkan pariwisata berkelanjutan di Indonesia untuk mengatasi permasalahan sampah di destinasi wisata. “Pariwisata berkelanjutan bertujuan membangun destinasi wisata dengan melibatkan masyarakat lokal, pemerintah, organisasi, dan wisatawan untuk meningkatkan perekonomian, estetika, dan kelestarian lingkungan dan budaya”, ujar Abizar. Selain permasalahan sampah itu sendiri, hambatan dalam membangun pariwisata berkelanjutan adalah fasilitas yang kurang memadai baik untuk pengumpulan, pengolahan, maupun pengelolaan sampah di destinasi wisata. Banyak destinasi wisata Indonesia yang belum mampu untuk mengatasi timbunan sampah yang dibawa oleh wisatawan. Selain itu, kesadaran masyarakat lokal maupun wisatawan untuk mengatasi masalah sampah di destinasi wisata juga menjadi permasalahan yang mendesak untuk diselesaikan. Peran masyarakat lokal dan wisatawan sangat penting untuk mewujudkan pariwisata berkelanjutan di Indonesia. Menanggapi permasalahan sampah di destinasi wisata, Pemerintah Kabupaten Malang telah berupaya untuk mengurangi dan mengelola sampah destinasi wisata dengan melibatkan masyarakat dan berbagai organisasi lingkungan baik untuk mengolah sampah maupun edukasi. Pemerintah Kabupaten Malang mendukung pemerintah Desa yang memiliki destinasi wisata untuk membangun TPS 3R. Renung Rubiyatadji memaparkan destinasi wisata yang telah memiliki TPS 3R adalah Pujon Kidul dan Warung Tani Pan Java. Beliau menganggap keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan TPS 3R telah membantu mengatasi permasalahan sampah destinasi wisata karena sampah yang dihasilkan dapat diolah menjadi kompos, “TPS 3R adalah program yang mengolah sampah organik menjadi kompos yang dilaksanakan oleh masyarakat. Kompos yang dihasilkan sebanyak 30- 60 ton per bulan.”

Gambar 4. Sesi diskusi dengan Renung Rubiyatadji (Dokumentasi Pemberdayaan Masyarakat)

Dari berbagai pengalaman para pembicara dalam terlibat aktif mewujudkan pariwisata indonesia yang berkelanjutan, dapat disimpulkan bahwa kolaborasi adalah kunci menyelesaikan masalah sampah di destinasi wisata Indonesia. Hal tersebut disampaikan oleh Ir. Rizki Handayani, MBTM. Kemenparekraf RI yang berharap bisa berkolaborasi dengan masyarakat melalui program BISA (Bersih, Indah, Sehat, Aman) yang selaras dengan misi mewujudkan pariwisata berkelanjutan, “Program BISA awalnya fokus untuk beautifikasi, harapannya program ini bisa fokus ke edukasi tentang sampah kedepannya. Kami harap bisa berkolaborasi bersama masyarakat dan organisasi lingkungan untuk bersama-sama memperbaiki lingkungan.” Beliau juga menyatakan pentingnya menyamakan tujuan dan bekerjasama dengan komunitas dalam mengatasi permasalahan sampah, “Kita bersama masyarakat bisa berdiskusi dan menciptakan tujuan bersama sebagai bagian dalam berproses bersama. Kita juga harus berinovasi untuk kerjasama dengan komunitas”. Tak lupa Ibu Rizky memberikan semangat kepada seluruh peserta untuk tetap semangat dalam berjuang mengatasi masalah sampah di destinasi wisata Indonesia, “Jangan menyerah dan tetap optimis untuk menyelesaikan masalah kita bersama. Mari berkolaborasi untuk menciptakan Indonesia sehat dan bersih”. Dukung program EcoRanger dalam mewujudkan pariwisata Indonesia yang berkelanjutan dengan berdonasi ke kitabisa.com/sekolaecoranger

Share artikel ini

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tentang Kami

Jl. Citamiang No. 6, Sukamaju, Kec. Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat 40121

Ikuti Kami:

© 2021 EcoRanger Indonesia. All Rights Reserved

Greeneration Foundation dan Coca-Cola Foundation Indonesia Melalui EcoRanger Berkolaborasi Menyelesaikan Masalah Sampah Di Destinasi Wisata

Versi English

Greeneration Foundation dan Coca-Cola Foundation Indonesia Melalui EcoRanger Berkolaborasi Menyelesaikan Masalah Sampah Di Destinasi Wisata

Versi English

Jakarta, 21 Januari 2021 - Greeneration Foundation bersama dengan Coca-Cola Foundation Indonesia pada hari ini (21/01/2021) menyampaikan pencapaian dari program EcoRanger Banyuwangi. EcoRanger Banyuwangi merupakan program yang diinisiasi oleh Greeneration Foundation dan berkolaborasi dengan Coca-Cola Foundation Indonesia (CCFI). Program ini merupakan pilot project dari EcoRanger Indonesia, yaitu implementasi sistem pengelolaan sampah di destinasi wisata yang telah dilaksanakan sejak November 2018 di Pantai Pulau Merah, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Pencapaian program telah menyentuh setidaknya 5 aspek yaitu terbentuknya struktur organisasi tim EcoRanger di wilayah Banyuwangi, partisipasi masyarakat setempat, pendanaan melalui implementasi social entrepreneurship, regulasi (pendampingan pemerintah setempat dalam penyusunan peraturan Desa Sumberagung Nomor 08 Tahun 2019 Tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga), dan operasional (pendirian Sektor Kelola Sampah (SEKOLA) sebagai infrastruktur persampahan dan fasilitas pengelolaan sampah terpadu).

Program EcoRanger sejalan dengan visi global “World Without Waste” dari The Coca-Cola Company sebagai upaya keberlanjutan perusahaan untuk menjadi bagian solusi terhadap tantangan lingkungan alam dunia sekaligus membangun ekosistem ekonomi sirkuler. Ketua Pelaksana Coca-Cola Foundation Indonesia, Triyono Prijosoesilo, menyampaikan “Melalui program EcoRanger, Coca-Cola bersama dengan Greeneration Foundation mendukung implementasi praktik pariwisata yang berkelanjutan di Indonesia dengan memberikan layanan Community Based Implementation (CBI). Kami sangat senang program ini telah berhasil mendorong masyarakat Desa Sumberagung untuk turut berpartisipasi dalam pelestarian daerah wisata dengan meningkatkan pengelolaan sampah yang berkelanjutan dan berbasis masyarakat.”

Salah satu pencapaian dari program EcoRanger Banyuwangi pada aspek operasional yaitu dengan berdirinya Sentra Kelola Sampah (SEKOLA) yang merupakan fasilitas pengelolaan sampah terpadu di Desa Sumberagung. Saat ini, SEKOLA dibangun secara non-permanen di atas lahan milik Perhutani KPH Banyuwangi Selatan seluas 250 m2. Kedepannya, diharapkan SEKOLA dapat menjadi cikal bakal dibangunnya TPS3R (Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle) di Desa ini.

Selain mendirikan SEKOLA, EcoRanger Banyuwangi juga berupaya menjaga kelestarian Destinasi Wisata melalui kegiatan bersih pantai di Pantai Pulau Merah di Banyuwangi yang terkenal sebagai salah satu ikon pariwisata yang paling banyak dikunjungi di Jawa Timur. Pantai tersebut juga menyimpan sebuah situs geologis Geopark Nasional Ijen. 

EcoRanger peduli terhadap Kelestarian destinasi wisata Pantai Pulau Merah karena sekitar lebih dari 4 ribu kilogram sampah dihasilkan dari kegiatan pariwisata setiap bulannya. Sampah tersebut akhirnya menumpuk dan mengganggu kenyamanan para wisatawan. Akibatnya, destinasi wisata kotor dan memberikan citra buruk bagi pengelola maupun pemerintah daerah setempat. Untuk menangani masalah sampah di destinasi wisata, diperlukan sebuah kolaborasi dan aksi nyata dalam upaya mencegah, mengendalikan serta menangani sampah.

“Melalui dukungan masyarakat dan pemerintah setempat, kini EcoRanger telah mampu memberikan banyak manfaat dalam pengelolaan sampah di destinasi wisata. Salah satunya yakni penyelenggaraan kegiatan bersih pantai setiap seminggu sekali. Kegiatan tersebut biasanya diikuti oleh para wisatawan domestik dan mancanegara yang sedang berkunjung di pantai Pulau Merah.” Ungkap Co-Founder Greeneration Indonesia, Mohamad Bijaksana Junerosano. 

Sampah yang telah dikumpulkan kemudian dipilah bersama dan disalurkan ke SEKOLA di mana kemudian, sampah diolah berdasarkan jenisnya. Sampah yang telah sampai di SEKOLA, dipilah secara rinci lalu dibagi menjadi 3 jenis yaitu Anorganik (recyclable), Organik dan Residu. Tak hanya pemilahan, SEKOLA juga menghasilkan beberapa produk dari pengolahan sampah yaitu pupuk kompos yang merupakan hasil olahan dari sampah organik, dan pot sabut kelapa. 

Gambar 2. Produk limbah olahan di destinasi wisata berupa kompos organik yang dibuat oleh tim EcoRanger di Banyuwangi (dokumentasi Greeneration Foundation)

“Selain mengolah sendiri sebagian sampah yang terkumpul, kami menyalurkan sampah anorganik ke Bank Sampah dan sampah residu kami kirimkan ke tempat pembuangan sampah akhir. Hingga akhir tahun 2020, SEKOLA yang dibangun bersama oleh kami, Yayasan Greeneration dan Coca-Cola Foundation Indonesia telah mampu mengelola sampah lebih dari 190 ton per tahun.” Lanjut Junerosano. 

Gambar 3. Produk limbah olahan di destinasi wisata berupa pot sabut kelapa yang dibuat oleh tim EcoRanger di Banyuwangi (dokumentasi Greeneration Foundation)

Melalui kegiatan diskusi Berbagi Pembelajaran Program Pengelolaan Sampah EcoRanger di Destinasi Wisata yang dilakukan secara daring pada hari ini (21/01/2021), bertujuan untuk berbagi tentang praktik pengelolaan sampah di Banyuwangi, Jawa Timur. Sebagai lembaga non profit, Yayasan Greeneration dan Coca-Cola Foundation Indonesia terus berkomitmen dalam mengawal isu persampahan di destinasi wisata. Inisiatif ini sejalan dan mendukung agenda pemerintah dalam mewujudkan pariwisata berkelanjutan di Indonesia. 

“Belajar dari program EcoRanger, kita telah melihat bahwa kolaborasi merupakan salah satu kunci untuk mewujudkan pengelolaan sampah yang lebih baik. Kami sebagai inisiator dari program EcoRanger, turut mengundang perusahaan lainnya untuk melanjutkan upaya kami, bersama dengan Yayasan Greeneration berkolaborasi menciptakan destinasi wisata bebas sampah.” tutup Triyono.   ***

***

Untuk informasi lebih lanjut,
dapat menghubungi:
Fauziah Syafarina Nasution, 
Communications Manager Coca-Cola Indonesia 
Email : fnasution@coca-cola.com. Mobile : 0811-981-343

 

 

Share artikel ini

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tentang Kami

Jl. Citamiang No. 6, Sukamaju, Kec. Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat 40121

Ikuti Kami:

© 2021 EcoRanger Indonesia. All Rights Reserved

Online Workshop “Sinergi Pengelolaan Sampah di Destinasi Wisata”

Online Workshop “Sinergi Pengelolaan Sampah di Destinasi Wisata”

Greeneration Foundation tetap konsisten dalam mewujudkan pariwisata berkelanjutan di Indonesia. Komitmen ini ditunjukan melalui seminar yang diinisiasi oleh Tim EcoRanger Banyuwangi pada 8 Oktober 2020. Seminar yang dilakukan secara daring ini disiarkan langsung melalui zoom dan youtube dan diikuti sekitar 140 peserta dari 25 provinsi di Indonesia. Sebagai tuan rumah kegiatan ini, Tim EcoRanger Banyuwangi mengundang 5 narasumber dari berbagai pihak yang terlibat dalam pengelolaan sampah di destinasi wisata. Mereka adalah Ibu Susi Herawati (Kepala Bidang Pengembangan Ekspose Generasi Lingkungan - Pusat Pelatihan Masyarakat dan Pengembangan Generasi Lingkungan - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan), Bapak Dimas Teguh (Manager Program EcoRanger Indonesia - Greeneration Foundation), Bapak Saka Dwi Hanggara (Waste Management Trainer - PT. Waste4Change), Bapak Candra Hermawan, M.Pd. (Ketua Program Studi Pendidikan Biologi - Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi), dan Bapak Edi Laksono (Wakil Ketua POKMAS Wisata Pulau Merah).Kegiatan ini juga memperoleh dukungan penuh oleh JICA Indonesia. 

Seminar daring yang diselenggarakan kurang lebih 3 jam ini menghasilkan poin-poin penting. Pertama, Permasalahan persampahan berakar pada kemauan dan kesadaran masing-masing individu. Perubahan perilaku produksi dan konsumsi yg lebih ramah lingkungan tidak hanya harus dilakukan oleh konsumen, tetapi juga produsen dlm proses produksinya. Kedua, diperlukan data-data persampahan yg aktual dan akurat untuk menunjang pengambilan kebijakan pengelolaan sampah secara tepat. Ketiga, Pemilahan sampah di sumber sangat membantu proses pengolahan lebih lanjut (daur ulang). Perkembangan teknologi pengolahan juga turut membantu pengurangan sampah residu yang “dibuang” ke TPA. Keempat, Diperlukan masterplan pengembangan pariwisata dengan mengikutsertakan rencana jangka panjang dan jangka pendek pengelolaan lingkungan, termasuk persampahan. Terakhir, Kerja sama berbagai stakeholder (pemerintah, pelaku usaha, komunitas, pelaku usaha dan wisatawan) untuk saling membantu mewujudkan pariwisata berkelanjutan.  Tim EcoRanger Banyuwangi turut mengedukasi pengurangan plastik sekali pakai kepada para peserta seminar daring. Kegiatan tersebut dilakukan di rumah masing-masing pada 02-07 Oktober 2020. Panitia menyediakan video tutorial untuk memandu peserta dalam mempraktikkan kegiatan daur ulang tersebut. Terdapat 3 pilihan kegiatan daur ulang, yaitu daur ulang material organik menggunakan biopori, daur ulang material plastik dengan ecobrick, dan daur ulang kertas bekas. Seluruh peserta tergabung dalam grup WhatsApp untuk mempermudah koordinasi. PT. Bamboo Arum sebagai startup yang memproduksi barang ramah lingkungan di Banyuwangi juga turut serta mendukung acara dengan donasi merchandise sedotan bambu sebagai upaya edukasi pengurangan plastik sekali pakai kepada para peserta.

Share artikel ini

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tentang Kami

Jl. Citamiang No. 6, Sukamaju, Kec. Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat 40121

Ikuti Kami:

© 2021 EcoRanger Indonesia. All Rights Reserved

Quick Count Sampah di TPS Pulau Merah

Quick Count Sampah di TPS Pulau Merah

Bertepatan dengan peringatan Hari Bumi, pada 22 April 2019 sebanyak 38 warga Dusun Pancer Desa Sumberagung Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi bersama tim EcoRanger bergotong royong melakukan penataan dan menghitung cepat timbunan sampah yang selama ini telah tertumpuk di TPS Pulau Merah. EcoRanger adalah program yang digagas oleh Greeneration Foundation yang berfokus pada pengelolaan sampah di area pariwisata, dalam hal ini Dusun Pancer yang memiliki 3 (tiga) wisata pantai yang sedang berkembang, yaitu Pantai Pulau Merah, Pantai Mustika, dan Pantai Wedi Ireng. Dari kegiatan pemindahan sampah, setidaknya 13.125 m3 sampah atau sekitar 2.187,5 ton sampah berhasil diangkut dari TPS Pulau Merah ke TPS Bulusan menggunakan dumptruck dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Banyuwangi. 

Kegiatan ini dilakukan untuk mengajak warga melihat kondisi nyata dan merenungkan nasib sampah di TPS jika sampah hanya ditumpuk dan dibiarkan begitu saja tanpa ada pengelolaan yang baik dan benar. Dari kegiatan ini, diharapkan warga tergugah untuk mulai melakukan pemilahan sampah di sumbernya, yaitu tiap-tiap rumah dan tempat usaha.

Selain itu di hari yang sama, Greeneration Foundation selaku penggagas program EcoRanger, memaparkan program EcoRanger di Ruang Rapat Sekretaris Daerah Kabupaten Banyuwangi. Ekspose program EcoRanger diwakili oleh Vanessa Letizia selaku direktur eksekutif Greeneration Foundation, Ridho Malik selaku project leader EcoRanger nasional, dan Hendro Subroto selaku ketua tim eksternal dan advokasi EcoRanger nasional, kemudian dilanjutkan dengan rapat bersama SKPD terkait mengenai pembangunan fisik Sentra Kelola Sampah (SEKOLAH) sebagai salah satu infrastruktur utama dalam pengelolaan sampah di Dusun Pancer. Sentra Kelola Sampah (SEKOLAH) EcoRanger di Dusun Pancer ini diharapkan menjadi contoh pengelolaan sampah di hilir secara holistik dan berkelanjutan di Kawasan Pariwisata Strategis Nasional (KPSN) di Indonesia.

Siti Muyasaroh

Tim eksternal dan advokasi EcoRanger Banyuwangi

Share artikel ini

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tentang Kami

Jl. Citamiang No. 6, Sukamaju, Kec. Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat 40121

Ikuti Kami:

© 2021 EcoRanger Indonesia. All Rights Reserved

Bersama Waste4Change, EcoRanger Lakukan Edukasi Bijak Sampah di Perkemahan Ilmiah Remaja Nasional XVIII

Bersama Waste4Change, EcoRanger Lakukan Edukasi Bijak Sampah di Perkemahan Ilmiah Remaja Nasional XVIII

Tim EcoRanger Banyuwangi bersama Waste4Change & PT Tetra Pak Indonesia tergabung sebagai tim edukator menyampaikan materi pengayaan pada peserta Perkemahan Ilmiah Remaja Nasional (PIRN) XVIII di Aula SMA Negeri 1 Giri Banyuwangi pada 27 Juni 2019. Acara tersebut diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dengan mengikutsertakan 979 peserta yang terdiri atas guru dan siswa dari berbagai tingkatan seperti SD, SMP, dan SMA sederajat dari 32 provinsi di Indonesia.

Penyampaian materi dibagi menjadi 5 (lima) sesi, dengan durasi tiap sesi kurang lebih 1 jam. Dalam rentang waktu tersebut, peserta diberi kesempatan untuk bertanya dan berdiskusi seputar pengelolaan sampah dan isu-isu terkini terkait persampahan di lingkungan sekitar. Materi yang disampaikan antara lain pemahaman sampah dari 2 (dua) sudut pandang, yaitu material yang langsung dibuang dan material yang masih dapat dimanfaatkan. 

Peserta diberikan pemahaman baru bahwa tidak semua material sisa kegiatan manusia atau proses alam dapat disebut sebagai sampah, karena sebagian di antaranya dapat digunakan kembali dengan fungsi yang sama (reuse) atau didaur ulang dengan atau tanpa pemrosesan menjadi barang dengan fungsi yang berbeda dengan fungsi asalnya (recycle). 

Tim edukator juga menjelaskan penggolongan sampah yang dibagi menjadi 4 (empat) jenis, yaitu sampah organik, sampah anorganik yang dapat didaur ulang, sampah B3, dan sampah residu. Peserta diajak untuk berdiskusi mengenai konsep 3R (reduce, reuse, dan recycle) dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.  

Foto: Pemateri memberikan penjelasan terkait penanganan sampah yang telah berjalan di beberapa wilayah di Indonesia

Dalam kesempatan ini, diperlihatkan juga contoh terkait penerapan daur ulang karton bekas minuman karton atau used beverage carton (UBC) yang telah dilaksanakan oleh PT Tetra Pak Indonesia sebagai salah satu bentuk tanggung jawab perusahaan terhadap keberlanjutan lingkungan (extended producer responsibility). 

Peserta diajak mendemonstrasikan program 3L, yaitu Lipat, Letak, dan Lepas yang dicanangkan oleh PT Tetra Pak Indonesia agar semua sampah UBC dapat terkelola dan tidak berakhir di TPA. PT Tetra Pak Indonesia juga menerapkan konsep penanaman bibit pohon baru sebagai ganti pohon yang ditebang untuk bahan baku kemasan karton untuk memastikan kegiatan produksinya tidak merusak sumber daya alam. 

Antusiasme peserta terlihat jelas dengan munculnya beberapa pertanyaan dan diskusi terkait praktik pengelolaan sampah yang telah dilakukan oleh peserta di lingkungannya masing-masing. Sebagian besar peserta sudah memahami pentingnya pengelolaan sampah, namun belum sepenuhnya mengerti bagaimana mengelola sampah yang benar dan bertanggung jawab. 

Melalui acara ini, diharapkan kesadaran mengurangi timbulan sampah dan mengelola sampah yang bertanggung jawab dapat ditumbuhkembangkan sejak dini, sehingga akan terbentuk mental anak-anak muda generasi bijak kelola sampah.

Share artikel ini

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tentang Kami

Jl. Citamiang No. 6, Sukamaju, Kec. Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat 40121

Ikuti Kami:

© 2021 EcoRanger Indonesia. All Rights Reserved