Category Archives: Event

Mengatasi Krisis Sampah Laut, 60 Nelayan Banyuwangi Bergabung dalam Program Fishing For Litter

Mengatasi Krisis Sampah Laut, 60 Nelayan Banyuwangi Bergabung dalam Program Fishing For Litter

Banyuwangi, 7 September 2021 – Krisis sampah laut yang tak kunjung tertangani membuat Indonesia bertengger sebagai penghasil sampah terbesar kedua di dunia. Indonesia menghasilkan sekitar 64 juta ton sampah plastik tiap tahunnya. Bahkan, laut Indonesia menerima 3,2 juta ton sampah plastik tiap tahunnya yang tak bisa dikelola. 

 

Hingga kini, krisis sampah laut Indonesia masih mengancam keberlanjutan hidup masyarakat maupun lingkungan. Dampak dari sampah plastik laut yang tak terkelola ini tentu sudah dirasakan langsung. Mikroplastik telah ditemukan dalam dalam konsumsi air mineral dan makanan laut. Berdasarkan riset yang dilakukan lembaga riset Ecoton pada tahun 2020, 100 liter air laut perairan timur Surabaya di Kenjeran hingga Tambak Wedi mengandung 195–598 partikel mikroplastik. Sampah plastik yang kita buang, kini kembali ke meja makan kita.

 

Fishing For Litter Solusi Permasalahan Sampah Laut Dusun Pancer

Menyadari bahaya yang disebabkan sampah plastik di laut, EcoRanger dari Greeneration Foundation bersama Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) Indonesia dan European Union menghadirkan program Fishing For Litter untuk mengatasi sampah plastik laut Indonesia dengan memberdayakan 60 nelayan Dusun Pancer, Banyuwangi sebagai aktor utama pembawa perubahan. Proyek ini menginisiasi nelayan untuk mengumpulkan sampah laut di dropping point yang nantinya akan dikelola secara bertanggung jawab oleh EcoRanger di Sentra Kelola Sampah (SEKOLA). 

Pentingnya Peran Nelayan Sebagai Agen Perubahan

Mengangkat keterlibatan nelayan sangat penting karena permasalahan ini berdampak langsung pada kelangsungan hidup nelayan yang sangat dekat dengan laut. Tujuan dari kegiatan ini untuk mengurangi sampah laut melalui konsep penangkapan ikan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan dengan mengembangkan program pengembangan masyarakat dan kerjasama multipihak.

           (Foto 2. Capacity Building Nelayan/                       Dokumentasi  Greeneration  Foundation)

 

Rangkaian Proyek Fishing For Litter

Proyek Fishing For Litter ini akan berjalan hingga Maret 2022 untuk mengubah perilaku nelayan terkait pengelolaan sampah secara bertahap. Proyek ini dimulai dari rangkaian kegiatan peningkatan kapasitas nelayan, Beach Clean Up, dan peresmian Fishing For Litter.

Peningkatan Kapasitas Nelayan

Peningkatan kapasitas nelayan diadakan di Aula Kantor IPPP Dusun Pancer, Banyuwangi pada tanggal 3-7 September 2021. Kegiatan ini diikuti oleh 60 nelayan lokal dengan mengikuti protokol kesehatan yang ditetapkan SATGAS Penanganan Covid-19 Dusun Pancer. Pada kegiatan ini, nelayan mendapatkan binaan tentang masalah sampah plastik dan sistem pengelolaannya. Sebagai bekal ilmu untuk mengelola sampah laut yang didapat dari aktivitas penangkapan ikan, Muhamad Muharam dari Waste4Change membina masyarakat untuk mendalami permasalahan dan merencanakan strategi untuk aksi mengumpulkan sampah laut, di mana 60 nelayan lokal yang dibina nantinya dapat memicu nelayan lain di Dusun Pancer, yang totalnya berjumlah 1.500 orang, untuk melakukan aksi serupa.

 

Nelayan Bentuk KUB Untuk Kelola Kegiatan Kelompok

Para nelayan juga mendapat pemaparan tentang peran yang akan mereka jalankan di kegiatan Fishing For Litter untuk tangani sampah laut. Dalam program Fishing For Litter ini, nelayan tak hanya berperan untuk mengumpulkan sampah laut, mereka juga akan berperan langsung membentuk dan mengelola Kelompok Usaha Bersama (KUB). Sebagai pengelola KUB, nelayan merencanakan strategi yang tepat untuk mengumpulkan sampah laut dan mengelola anggota agar tetap memiliki kesamaan visi dan misi. 

 

Capaian dari kegiatan peningkatan kapasitas nelayan ini, para nelayan berhasil membentuk 6 kelompok KUB dan membuat rancangan rencana aksi pengelolaan sampah, termasuk menentukan target, strategi operasional dan keterlibatan masyarakat dalam aksi pengumpulan sampah.

 

           (Foto3. Beach Clean Up Pantai Pulau                 Merah/Dokumentasi Greeneration Foundation)

 

Beach Cleanup Untuk Bersihkan Pantai

Selain peningkatan kapasitas nelayan, EcoRanger juga mengadakan Beach clean up yang diadakan di Pantai Pulau Merah pada tanggal 4 dan 11 September 2021. Aksi ini dilakukan untuk mengkampanyekan aksi peduli sampah laut dan memperingati hari Bersih Sampah Sedunia (World Clean Up Day). Aksi ini diikuti oleh 20 orang. Aksi ini berhasil mengumpulkan 36,8 Kg sampah pesisir Pantai Pulau Merah.

 

Dukungan Pemerintah Daerah Untuk Fishing For Litter

Rangkaian kegiatan ini mendapat respon positif dari Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Banyuwangi, Drs. H. Arief Setiawan, MM, dan Wakil Bupati Banyuwangi, Sugirah. Kita harus bergotong royong untuk menangani masalah sampah karena ini tidak bisa diselesaikan sendiri. Untuk menyelesaikan ini, kita semua harus menjaga semangat dan pantang menyerah demi Banyuwangi yang lebih makmur. Kami juga akan berupaya menjadikan KUB dari program Fishing For Litter menjadi binaan Dinas Perikanan Banyuwangi” pungkas Sugirah.

 

             (Foto 4. Peresmian Fishing For Litter/                     Dokumentasi Greeneration Foundation)

 

Diresmikannya program ini pada 7 September 2021 di Aula Kantor IPPP Dusun Pancer, Banyuwangi, menjadi harapan untuk aksi peduli kelestarian laut dapat diperluas dan melibatkan lebih banyak pihak seperti nelayan yang kehidupannya tak bisa dipisahkan dari laut. Peresmian ini didukung penuh oleh Wakil Bupati Banyuwangi, Dinas Perikanan Banyuwangi, Camat Pesanggaran, Kepala Desa Sumber Agung, serta Kepala Dusun Pancer.  Fishing For Litter “Aksi Untuk Laut Indonesia”.

Share artikel ini

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tentang Kami

Jl. Citamiang No. 6, Sukamaju, Kec. Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat 40121

Ikuti Kami:

© 2021 EcoRanger Indonesia. All Rights Reserved

Kolaborasi Multipihak Mengajak Para Stakeholders BCA Digital Menjadi Pejuang Lingkungan

Kolaborasi Multipihak Mengajak Para Stakeholders BCA Digital Menjadi Pejuang Lingkungan

Jumat, 20 Agustus 2021 –  Krisis persampahan di Indonesia masih belum terselesaikan. Indonesia merupakan penyumbang sampah makanan terbesar kedua di dunia, juga penyumbang sampah plastik di laut terbesar kedua di dunia. Dalam negeri sendiri, berbagai fasilitas pembuangan sampah terancam kelebihan kapasitas pada 2021. Setiap tahunnya, Indonesia menghasilkan 6,8 juta ton sampah plastik dan 9%-nya atau sekitar 620 ribu ton masuk ke sungai, danau, dan laut. Menyadari urgensi ini, blu by BCA Digital berkolaborasi dengan Kitabisa dan program EcoRanger dari Greeneration Foundation melaksanakan #blubuatbaik Sharing Session pada 20 Agustus 2021 secara virtual. Seperti apa keseruan belajar di Sharing Session? Mari cari tahu bersama!

 

      (Foto 1. Duardi Prihandiko/Dokumentasi                               Greeneration Foundation)

Misi #blubuatbaik Selamatkan Indonesia Dari Krisis Sampah

#blubuatbaik adalah sebuahnya kampanye yang digaungkan blu di tahun 2021 dan merupakan bagian dari program jangka panjang corporate sustainability initiative BCA Digital. Membawakan tema “Jadi Pejuang Untuk Lingkungan dan Bumi”, sharing session ini diperuntukkan bagi karyawan BCA Digital. Melalui kegiatan ini, seluruh tim BCA Digital diharapkan bisa belajar mengenai seluk beluk permasalahan polusi sampah plastik yang mengancam ekosistem alam sekaligus mempraktikkan gaya hidup yang ramah lingkungan dan lebih memperhatikan sustainability.

 

Strategi BCA Digital Lewat #blubuatbaik Jalin Kerjasama dengan Greeneration Foundation dan KITABISA

Membuka sharing session ini, Duardi Prihandiko selaku Head of Marketing Communication BCA Digital menyampaikan, “blu mempunyai misi untuk hadir sebagai impact-oriented technology. Sejak awal, kami berkomitmen untuk memastikan kehadiran blu memberikan dampak positif yang menjamin keberlanjutan bumi, yang merupakan rumah kita bersama. Kami paham bahwa kami tidak bisa melakukan ini sendirian, maka dari itu blu berkolaborasi dengan para mitra yang memiliki semangat dan visi yang sama, yaitu Greeneration Foundation dan KITABISA.”

 

“Lewat kampanye #blubuatbaik, blu mengajak para nasabah BCA Digital dan teman-teman semua untuk ikut turun tangan dalam menjaga lingkungan kita dari ancaman sampah plastik. Harapannya di penghujung tahun 2021 nanti, kita bisa mengurangi sampah residu hingga 30.000 kilogram, meningkatkan persentase daur ulang sampah organik dan anorganik hingga 198.800 kilogram, serta mengurangi emisi karbon hingga 303.000 metrik kilogram karbondioksida,” tambah Duardi.

 

BCA Digital akan berdonasi Rp 1.000 dari dana CSI (Corporate Sustainability Initiative) atas nama setiap nasabah baru yang berhasil membuka rekening blu sepanjang tahun 2021, pada platform KITABISA. Hasil fundraising tersebut akan di optimalisasikan oleh Greeneration Foundation lewat Program EcoRanger dalam menerapkan pengelolaan sampah yang baik di Banyuwangi. 

Jadi Pejuang Sampah Bersama #blubuatbaik

Beberapa hal yang dibahas dalam sharing session ini adalah solusi yang dapat dilakukan setiap individu untuk mengatasi masalah sampah plastik agar menjadi pejuang untuk melindungi bumi dan lingkungan sekitar. Selain itu, dipaparkan pula contoh aksi kolaborasi yang dilakukan EcoRanger di Banyuwangi untuk meningkatkan pemilahan sampah dari sumber beserta pendampingan masyarakat, penyediaan fasilitas pengelolaan sampah, edukasi, dan kolaborasi multistakeholder.

 

Fakta Permasalahan Sampah di Indonesia

Melalui pemaparan materi yang disampaikan, Siti Muyasaroh selaku Site Coordinator EcoRanger Banyuwangi menyampaikan bahwa, “Permasalahan sampah menjadi urgensi yang harus diselesaikan segera. Hingga saat ini, Indonesia bahkan menjadi negara ke-2 dengan bencana sampah yang paling mematikan di Dunia. Bahkan, 90% sampah plastik di Indonesia tidak didaur ulang. Padahal, semua orang punya tanggung jawab yang sama untuk menyelesaikan masalah ini.”

Dampak dari Krisis Sampah di Indonesia

Berdasarkan fakta yang dipaparkan Siti Muyasaroh mengenai permasalahan sampah yang masyarakat Indonesia hadapi tak bisa dianggap sepele. Dampak nyata dari permasalahan ini sudah terlihat jelas dari meningkatnya pencemaran lingkungan dan perubahan iklim. Oleh karena itu, beliau mengajak setiap orang untuk memulai langkah perubahan kecil dengan menerapkan gaya hidup ramah lingkungan dengan cara membiasakan diri menghindari penggunaan plastik sekali pakai, melakukan pemilahan sampah dari rumah, dan mendaur ulang sampah.

Dukungan #blubuatbaik Untuk EcoRanger Tangani Sampah di Banyuwangi

Kampanye #blubuatbaik yang mendukung kegiatan pengelolaan sampah EcoRanger di Banyuwangi juga mendukung gaya hidup ramah lingkungan masyarakat dengan menyelesaikan masalah sampah dari sumbernya. Siti Muyasaroh berharap program ini turut menjadi langkah bersama mewujudkan cita-cita Indonesia bebas sampah 2025. 

Tak hanya Sharing Pengetahuan Peserta Ikuti Challenge Hidup Ramah Lingkungan

Tak cukup hanya mempelajari permasalahan sampah secara teori melalui seminar interaktif, peserta juga akan menerapkan hasil belajarnya dalam kehidupan sehari-hari dengan mengikuti 5 Days Challenge. Pada challenge ini, peserta ditantang untuk menerapkan gaya hidup ramah lingkungan terkait pengurangan dan pengelolaan sampah plastik. Peserta diminta untuk mengabadikan dan membagikan cerita di balik challenge yang dilakukan di kanal media sosial Instagram masing-masing. Tiga peserta dengan cerita paling menarik mendapatkan apresiasi khusus. 

 

                (Foto 2. Sesi Diskusi/Dokumentasi                                    Greeneration Foundation)

Tentunya masih banyak aksi lain yang akan dilakukan ke depannya agar Greeneration Foundation melalui program EcoRanger bersama blu by BCA Digital dan Kitabisa demi mencapai keberhasilan dalam meningkatkan pemilahan sampah dari sumber untuk bumi yang lebih baik.

 

Apesiasi Dari Kitabisa

“Kitabisa sangat mengapresiasi inisiatif baik dari BCA Digital melalui program #blubuatbaik dalam langkah menyelamatkan lingkungan. Semoga aksi gotong royong yang dilakukan antara nasabah BCA Digital, Karyawan BCA Digital serta dan Orangbaik lainnya diharapkan dapat membantu menyadarkan masyarakat akan pentingnya menjaga bumi kita melalui aksi kecil yang dapat dilakukan sehari-hari,” ungkap Marisa Thara Wardhani, Head of Brand Partnership Kitabisa.

Greeneration Foundation Siap Beraksi Melalui EcoRanger

Rangkaian kolaborasi tiga pihak ini juga mendapat apresiasi dan dukungan penuh dari Direktur Eksekutif Greeneration Foundation, Vanessa Letizia. “Aksi kolaborasi BCA Digital, Kitabisa, Greeneration Foundation, dan EcoRanger dalam Kampanye #blubuatbaik merupakan kolaborasi yang epik. Kolaborasi ini mendukung rangkaian pengembangan program EcoRanger di Banyuwangi. Selaras dengan misi Greeneration Foundation, #blubuatbaik akan membantu kami mengkampanyekan gaya hidup berkelanjutan untuk bumi yang lebih baik” tutup Vanessa.

Share artikel ini

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tentang Kami

Jl. Citamiang No. 6, Sukamaju, Kec. Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat 40121

Ikuti Kami:

© 2021 EcoRanger Indonesia. All Rights Reserved

Dinobatkan Jadi Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata Siapkah Mandalika Tanggulangi Sampah Wisatawan?

Versi English

Dinobatkan Jadi Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata Siapkah Mandalika Tanggulangi Sampah Wisatawan?

Banyuwangi, 10 September 2021 – Pemerintah Indonesia menobatkan Mandalika, Nusa Tenggara Barat sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) pariwisata melalui Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2014 guna menggenjot potensi pariwisata daerah. Lagi, pemerintah pun menobatkan Mandalika sebagai 5 Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN). Keseriusan pemerintah dalam mengembangkan pariwisata terlihat dari pembangunan Sirkuit Mandalika untuk perhelatan Moto GP sebagai ajang balap motor dunia. 

Potensi tersebut menjadi peluang besar pemerintah untuk mendatangkan wisatawan lokal dan mancanegara ke Mandalika. Selaras dengan peningkatan potensi wisata Kawasan Ekonomi Khusus, jumlah sampah yang dihasilkan Mandalika juga tak kalah meningkat pesat. Seberapa banyak sampah yang di hasilkan Mandalika? Apa solusi yang ditawarkan? Yuk cari tahu lebih lanjut!

Produksi Sampah KEK Mandalika

Berdasarkan data yang dipaparkan sampahlaut.id menunjukkan bahwa Mandalika menghasilkan sekitar 215,7 ton sampah per tahun. Dari jumlah tersebut, 122,4 ton sampah per tahun merupakan sampah plastik, jumlah ini setara dengan bobot 2 pesawat terbang boeing 737. Berdasarkan Riset Marine Debris Pantai Loang Baloq Lombok yang dilakukan Wahyu Rosadi selaku Founder Komunitas Ddorocare, persentase marine debris didominasi oleh  sampah plastik, yaitu sekitar 58,6%. Dari data-data tersebut terlihat jelas gambaran permasalahan sampah di kawasan wisata Mandalika. Mengundang wisatawan tanpa solusi pengelolaan sampah? Bukan menyajikan destinasi wisata yang elok, justru hadirkan sampah untuk berlibur bersama wisatawan. Lalu, bagaimana solusinya?

 

(Foto 2. Foto bersama peserta/Dokumentasi Greeneration Foundation)

       (Foto 2. Foto bersama peserta/Dokumentasi                           Greeneration Foundation)

 

Solusi Pengelolaan Sampah di KEK Mandalika

Menyadari masalah ini perlu perhatian khusus dari seluruh pihak, program EcoRanger  dari Greeneration Foundation menggelar EcoRanger Talkshow Series 4.0 pada Kamis, 9 September 2021 untuk mengupas masalah pengelolaan sampah yang bertanggung jawab di Mandalika. Talkshow ini mengangkat tema “Potret KSPN Mandalika, NTB : Menuju Destinasi Pariwisata Super Prioritas yang Ramah Lingkungan dan Bebas Sampah”

EcoRanger sebelum nya telah mengadakan 3 rangkaian series yang membahas pariwisata berkelanjutan dengan sistem pengelolaan sampah di 3 wilayah KSPN yang berbeda seperti Manado-Likupang, Bromo-Tengger Semeru, dan Danau Toba. Adanya talkshow ini diharapkan dapat membuka fakta tentang penerapan pariwisata berkelanjutan dan berbagi solusi pengelolaan sampah  di 10 KSPN. 

 

Penyelenggaraan EcoRanger Talkshow Series 4.0 bekerja sama dengan Jambore Indonesia Bersih dan Bebas Sampah (JIBBS), sehingga menjadi Special Series JIBBS. Jambore Indonesia Bersih dan Bebas Sampah, merupakan sebuah wadah strategis untuk mempertemukan seluruh pegiat peduli persampahan di Indonesia yang mewakili lima aktor perubahan diantaranya masyarakat sipil, pemerintah, swasta, media, dan tokoh masyarakat, baik pada tingkat individu maupun mewakili suatu komunitas atau lembaganya. Berlangsung pada 14 Agustus hingga 21 September 2021, JIBBS 2021 Virtual mengusung tema “Membangun Sistem Pengelolaan Sampah yang Melibatkan Partisipasi Lintas Sektor untuk Pemulihan Ekonomi Nasional yang Berkelanjutan”.

EcoRanger Talkshow Series 4.0 menghadirkan pembicara yang kompeten dan terlibat langsung menangani pariwisata dan pengelolaan sampah di Mandalika. Mereka yang hadir adalah  Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah, M.Pd (Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat), H. Yusron Hadi (Kepala Dinas Pariwisata, NTB), Firmansyah, M.Si (Kepala Pengelolaan Sampah dan Pengendalian Pencemaran Lingkungan, DLHK NTB), Syawaludin, SE (Direktur Bank Sampah Bintang Sejahtera),  serta M. Wahyu Rosadi (Founder Komunitas Ddorocare, NTB). Para pembicara memiliki peranan penting untuk mengungkap fakta dan mendiskusikan solusi bersama 70 orang peserta sistem kelola sampah di 10 KSPN. Pada kesempatan ini mereka juga menyampaikan upaya dan solusinya tangani masalah sampah di Mandalika.

 

     (Foto 3. Wakil Gubernur NTB/Dokumentasi                                Greeneration Foundation)

 

Upaya Pemerintah Galakkan NTB Bersih dan Hijau

Sebagai jawaban dari solusi penerapan pariwisata berkelanjutan di NTB, pemerintah menggalakkan gerakan NTB Bersih dan Hijau untuk mengubah sudut pandang masyarakat. Melalui gerakan ini, pola pikir bahwa sampah bukan musibah tapi peluang diciptakan agar seluruh pihak baik pemerintah, masyarakat, maupun pelaku usaha berlomba-lomba mengubah sampah menjadi barang yang bernilai, pungkas Dr. Ir. Sitti Rohmi Djalilah, M.Pd. Upaya membangun bank sampah menjadi solusi yang dilaksanakan untuk gerakan ini.

 

Menambahkan tentang langkah yang telah dilakukan pemerintah untuk memaksimalkan potensi pariwisata mandalika serta kelestarian lingkungannya, Bapak Yusron Hadi dan Pak Lalu Hasbulwadi mengungkapkan, “Untuk menyelaraskan perkembangan pariwisata dan keberlanjutan lingkungan, sistem Cleanliness, Health, Safety, and Environment Sustainability (CHSE) telah diterapkan pada kampanye Green Tourism. CHSE diterapkan di kawasan pariwisata dan zona hijau”. Tak lupa, mereka juga mengingatkan pentingnya peran generasi muda untuk terlibat dalam pengelolaan pariwisata berkelanjutan.

 

    (Foto 4. Penyampaian Materi Oleh Firmansyah,        M.Si/Dokumentasi    Greeneration Foundation)

 

Merespon pentingnya sampah sebagai peluang, Firmansyah, M.Si menyampaikan, “Mandalika menerapkan strategi industrialisasi pengelolaan sampah untuk mengatasi masalah lingkungan sekaligus mengelola sampah untuk mendukung aspek perekonomian”. Peluang ekonomi menjadi kesempatan untuk memanfaatkan sampah menjadi barang yang bernilai. Hal ini menjadi salah satu tanggung jawab seluruh pihak yang menghasilkan sampah.  “Sampahku tanggung jawabku!” ujar beliau.

 

   (Foto 5. Penyampaian Materi Oleh Syawaludin,         SE/Dokumentasi Greeneration Foundation)

 

Upaya Komunitas Lokal Tangani Sampah Mandalika

Tak cukup dari pemerintah, komunitas lokal yang telah terjun langsung menghadapi masalah sampah di Mandalika juga turut menuangkan gagasannya. Sebagai salah satu tokoh penggerak pengelolaan sampah di Mandalika,  Syawaludin, SE menyampaikan bahwa, “Mengatasi sampah bisa dilakukan dengan  3 pendekatan yaitu,  minim sampah (merubah perilaku masyarakat untuk menerapkan zero waste), ekonomi sirkuler (adanya regulasi dari pemerintah yang memudahkan untuk komunitas ataupun KSM melakukan kegiatan ekonomi terkait pengelolaan sampah), serta pelayanan dan teknologi (pengadaan teknologi daur ulang dan transportasi angkut sampah yang tepat guna)”.  Tiga pendekatan ini dirasa efektif untuk dilakukan karena melibatkan seluruh elemen masyarakat dalam penerapannya.

 

Dukungan Greeneration Foundation Untuk Mandalika Bebas Sampah

Menyaksikan semangat kolaborasi yang digaungkan oleh setiap narasumber, Ryan Yovantra selaku Program Manager mewakili Direktur Eksekutif Greeneration Foundation turut mendukung strategi kolaborasi yang melibatkan seluruh elemen masyarakat untuk atasi masalah sampah di destinasi wisata, “Krisis sampah Indonesia berhasil menobatkan Indonesia sebagai negara penghasil sampah terbanyak ke-2 sedunia. Sektor pariwisata yang turut terdampak membutuhkan solusi pengelolaan sampah yang berkelanjutan dengan mengedepankan semangat kolaborasi dalam beraksi. EcoRanger Talkshow Series adalah sarana untuk berbagi info terbaru dan edukasi pariwisata berkelanjutan di KSPN”.

Melalui ajang diskusi yang telah dihadirkan EcoRanger Talkshow Series 4.0, harapannya dapat membuka jalan bagi EcoRanger dan berbagai komunitas untuk bergerak bersama, membantu Mandalika tangani masalah sampah. To Care To Clean To Sustain.

Share artikel ini

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tentang Kami

Jl. Citamiang No. 6, Sukamaju, Kec. Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat 40121

Ikuti Kami:

© 2021 EcoRanger Indonesia. All Rights Reserved

Rethinking Plastics: Masa Depan Laut Indonesia Bersih Cemerlang

Rethinking Plastics: Masa Depan Laut Indonesia Bersih Cemerlang

Penulis: Aviaska Wienda Saraswati

Proyek Rethinking Plastics

Jakarta, 30 Juni 2021Aksi nyata meningkatkan pengelolaan sampah di Indonesia terus digencarkan para pegiat lingkungan demi mengejar ketertinggalan dalam mengatasi dampak yang ditimbulkan masalah sampah terhadap lingkungan. Proyek Rethinking Plastics: Circular Economy Solution to Marine Litter hadir membawa angin segar untuk mempercepat upaya mengatasi permasalahan sampah melalui sistem ekonomi sirkular. Proyek Rethinking Plastics bertujuan untuk mendorong percepatan penerapan konsumsi dan produksi plastik yang berkelanjutan dalam rangka menanggulangi sampah plastik di laut Indonesia, di Kawasan Asia Timur dan Tenggara.  Empat pilot project dari Proyek ini di launching pada 30 Juni 2021.

        (Foto 1. Sambutan dari Pascal Renauld)

 

Kekuatan Kolaborasi

Proyek Rethinking Plastics yang didanai oleh Uni Eropa dan Pemerintah Jerman dilaksanakan oleh Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ). Tentunya, GIZ tidak bergerak sendiri. GIZ berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, pemerintah indonesia, dan organisasi masyarakat. Langkah kolaborasi dipilih demi memperluas dampak terhadap lingkungan secara cepat dan masif. Harapannya, kolaborasi dapat menciptakan ruang bersama untuk saling mendukung aksi nyata pengelolaan sampah laut Indonesia. Dalam proyek ini, GIZ akan bergandengan tangan dengan program EcoRanger dari Greeneration foundation, Center for Southeast Asian Studies (CSEAS) Indonesia, Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia, dan Making Oceans Plastic Free (MOPF).

EcoRanger Bergerak Bersama Nelayan

Tak ingin kehilangan kesempatan untuk berkontribusi memberikan aksi untuk laut Indonesia, EcoRanger bergerak bersama nelayan dalam kegiatan Fishing For Litter. Kegiatan ini akan dilaksanakan pada April 2021-2022 di Dusun Pancer Banyuwangi, Jawa Timur, Indonesia. Melalui Fishing For Litter, EcoRanger akan memberdayakan dan membangun kebiasaan nelayan lokal untuk mengelola sampah laut mulai dari mengumpulkan hingga mengolah sampah laut. Peran nelayan sangat penting karena mereka adalah kelompok yang menghadapi dan terdampak permasalahan sampah laut secara langsung.

              (Foto 2. Sambutan dari Henriette)

Pemerintah Menyambut Baik Aksi Untuk Laut Indonesia

Aksi nyata untuk laut Indonesia Ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah Uni Eropa dan Indonesia. Dalam acara launching ini, mereka mendeklarasikan dukungan dan harapan hasil baik dari proyek Rethinking Plastics: Circular Economy Solution to Marine Litter. Henriette Faergemann, Konselor bidang Lingkungan Hidup, Iklim dan ICT, Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia, dalam sambutannya; menyampaikan apresiasi kepada keempat pelaksana kegiatan percontohan, pemerintah daerah serta berbagai pihak yang akan membantu mensukseskan proyek ini. Keempat proyek percontohan ini akan membawa misi besar dan harapan pengelolaan sampah laut melalui ekonomi sirkuler yang dapat menginspirasi berbagai gerakan di daerah lain. 

Rofi Alhanif, Asisten Deputi Pengelolaan Sampah dan Limbah, Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Indonesia berharap proyek Rethinking Plastics dapat menjadikan indonesia yang lebih bersih dan sehat sebagai aksi nyata yang didukung oleh mitra global dari Uni Eropa dan GIZ.

            (Foto 3. Sambutan dari Rofi Alhanif)

Adanya proyek percontohan di masing-masing daerah di Indonesia ini, pemerintah daerah sangat berterima kasih pada keempat pelaksana proyek percontohan, pemerintah Uni Eropa, dan GIZ karena telah memulai langkah inisiatif menjaga kebersihan laut Indonesia. Mereka yang mengungkapkan rasa syukurnya adalah  Pemerintah Daerah Banyuwangi (Hardiono),  Pemerintah Daerah Jawa Tengah (Fendiawan Tiskiantoro),  Pemerintah Daerah Kabupaten Malang (Renung Rubiyatadji), dan Pemerintah daerah Lombok Barat (Muzapir).

Launching proyek percontohan Rethinking Plastics ini menjadi momentum memulai aksi untuk menjaga kebersihan laut Indonesia. Tantangan yang akan dihadapi ke empat institusi pelaksana proyek telah menanti. Bersama-sama, semua menjalankan solusinya untuk laut Indonesia.

 

Share artikel ini

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tentang Kami

Jl. Citamiang No. 6, Sukamaju, Kec. Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat 40121

Ikuti Kami:

© 2021 EcoRanger Indonesia. All Rights Reserved

Danau Toba Butuh Aksi Nyata Pengelolaan Sampah Berkelanjutan

Versi English

Danau Toba Butuh Aksi Nyata Pengelolaan Sampah Berkelanjutan

EN Version

Penulis: Aviaska Wienda Saraswati

Bandung, 11 Juni 2021- Danau Toba, Siapa yang tidak kenal dengan salah satu danau tersohor di dunia ini. Terletak di provinsi Sumatera Utara, Danau Toba merupakan danau vulkanik terbesar di dunia karena luasnya lebih dari 1.145 kilometer persegi dengan kedalaman 450 meter. Uniknya, saking luasnya danau ini, lebih menyerupai lautan dengan Pulau Samosir di tengahnya. Kemasyhuran ini tentunya membuka potensi besar pertumbuhan sektor pariwisata. Bagaimana tidak, pemandangan alam yang indah, kekayaan budaya lokal, dan lezatnya kuliner khas Toba pasti membuat wisatawan tidak bisa menolak untuk mengunjungi Danau Toba.  Menyadari potensi besar yang dimiliki Danau Toba, Pemerintah menjadikan danau ini sebagai salah satu dari 5 Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) super prioritas.

Sebagai salah satu kawasan KSPN super prioritas, tentunya pemerintah merencanakan pembangunan sektor pariwisata yang masif di Danau Toba. Namun, sayangnya perkembangan sektor pariwisata pasti sejalan dengan peningkatan kerusakan lingkungan yang diakibatkan sampah aktivitas pariwisata.

                        Foto 1. Peserta ETS 3.0 
            (Dokumentasi Community Empowerment)

Masyarakat tentunya sudah berupaya untuk mencegah kerusakan lingkungan akibat aktivitas pariwisata. Namun, masih dibutuhkan lebih banyak aksi yang berkelanjutan dalam menjaga kelestarian lingkungan Danau Toba dari aktivitas pariwisata. Tak hanya masyarakat, pemerintah, komunitas lingkungan, dan wisatawan juga harus terlibat untuk mendukung masyarakat membangun pariwisata berkelanjutan di Danau Toba.

Melihat keresahan ini, Program EcoRanger dari Greeneration Foundation tergugah untuk mengenal lebih dekat permasalahan pengelolaan sampah di Danau Toba. Sebagai langkah awal, EcoRanger membuka sarana diskusi untuk mengupas pengelolaan sampah di Desa Wisata Danau Toba melalui EcoRanger Talkshow Series 3.0 (ETS 3.0) pada 10 Juni 2021. ETS 3.0 hadir dengan tema “Menilik Pengelolaan Sampah Desa Wisata di Kawasan Strategis Pariwisata Nasional Danau Toba, Sumatera Utara” dan mengundang berbagai aktor lokal dalam bidang pariwisata dan pengelolaan sampah seperti, Armawati Chaniago (tokoh penggerak bank sampah asal Medan), Ojax Manalu (Founder sekaligus Direktur Rumah Karya Indonesia), Irwansyah Putra (Koordinator Fasilitas Pelaksanaan Pemanfaatan Dana Desa, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi), dan Surana, MBA (Koordinator Peningkatan Kompetensi SDM Pariwisata, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif). 

Masing-masing pembicara membuka fakta dengan menyampaikan gagasannya terkait permasalahan yang terjadi. Armawati Chaniago menyatakan bahwa, “KSPN Danau Toba harus segera memiliki strategi untuk mengatasi sampah di desa wisata Danau Toba. Masalah ini tidak bisa ditunda untuk diselesaikan karena volume sampah lebih besar daripada kontainer sampah.” Ojax Manalu mengungkapkan, “Membangun pariwisata yang berkelanjutan itu tidak melulu hanya membicarakan strategi. Ada aspek yang tak kalah penting dan tidak boleh terlewatkan yaitu membangun budaya di masyarakat untuk bergerak bersama mengembangkan pariwisata berkelanjutan.”

         Foto 2. Pemaparan Materi dari Ojax Manalu 
           (Dokumentasi Community Empowerment)

Tak hanya aktor lokal penggerak pariwisata dan pengelolaan sampah, dari pihak pemerintah pun turut menyampaikan gagasannya. Irwansyah Putra mengatakan, “Dalam membangun desa wisata, kita harus dukung aparatur desa, semua orang di desa memiliki keterbatasan, disitulah kita sebagai pegiat lingkungan bisa membantu memberdayakan mereka. Supaya kita bisa membawa perubahan agar desa lestari dan dan dapat menunjang perekonomian masyarakat Indonesia”. Surana, MBA  menegaskan, “Sekarang ini muncul tren baru dalam dunia  pariwisata paska pandemi. Dimana kompetensi CHSE menjadi aspek yang sangat penting untuk dimiliki destinasi wisata, termasuk desa wisata. Dalam pengembangan pariwisata butuh keterlibatan baik dari masyarakat, komunitas, dan pemerintah. Poin penting yang harus kita pegang dalam mengembangkan pariwisata adalah kita harus mengembalikan lingkungan dan alam karena kita hanya meminjam dari anak cucu kita dan harus mengembalikan seperti sedia kala.”

               Foto 3. Pemaparan Materi dari Surana, MBA 
           (Dokumentasi Community Empowerment)

Gagasan yang muncul dalam forum diskusi ini baik dari pembicara maupun peserta alangkah baiknya memicu berbagai pihak untuk melakukan langkah perubahan demi terwujudnya pariwisata berkelanjutan. Tentu setidaknya masyarakat lokal, pemerintah daerah, wisatawan dan komunitas lokal bisa memulai langkah ini segera, karena merekalah yang memahami dan menyaksikan langsung permasalahan yang terjadi. Langkah awal ini yang nantinya akan membuka kesempatan kolaborasi secara nasional maupun internasional untuk keberlanjutan desa wisata Danau Toba.

Share artikel ini

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tentang Kami

Jl. Citamiang No. 6, Sukamaju, Kec. Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat 40121

Ikuti Kami:

© 2021 EcoRanger Indonesia. All Rights Reserved