Bisa Diubah Jadi Apa Sampah yang Kamu Hasilkan?

Bandung, 29 Desember 2021 – Sampah oh sampah… masalah lingkungan yang satu ini serasa tidak ada habisnya. Bagaimana tidak? Hampir dari seluruh aktivitas kita tiap harinya melahirkan jutaan ton sampah-sampah baru yang entah kemana akan berakhir. Rasanya, berbagai upaya yang kita lakukan saat ini masih jauh tertinggal dari laju permasalahan yang tak ada hentinya memburuk. Sebenarnya, dari mana akar permasalahannya? Bisakah kita mengubah keadaan?

Sampah Yang Pasti Kamu Hasilkan Di Rumah

Jika ada yang bertanya padamu akar dari permasalahan sampah yang sudah terlanjur rumit dan merusak ini, tampaknya tak salah jika kamu jawab asalnya ya pasti dari rumah kita masing-masing. Tanpa terkecuali, semua rumah dan manusia di bumi ini menghasilkan sampah. Dari aktivitas yang paling sederhana sampai yang paling kompleks. Lalu, sampah jenis apa saja yang kita hasilkan? Apakah sampah organik dan anorganik saja? Tentu tidak, selama ini kita mungkin hanya tahu dua jenis sampah itu saja yang kita hasilkan di rumah. Tapi siapa sangka, ternyata kita menghasilkan 3 jenis yaitu sampah organik, anorganik, dan B3 (Bahan Berbahaya Beracun). Banyak juga ternyata. Mulai dari makanan yang masuk ke mulutmu, kemasan plastik barang-barang di rumahmu, bahkan material elektronik dari ponsel yang tak lagi kamu pakai. Semuanya berakhir di satu tempat sampah bukan? Atau kamu sudah memilahnya? Lebih baiknya lagi, sudahkah kamu mendaur ulangnya?

Foto 1. Plastik cacah/ Aviaska

Dari Rumahmu Sampah Berkelana

Kebanyakan dari kita masih belum melakukan apapun pada sampah yang kita hasilkan selain membuangnya ke tempat sampah. Hal ini terbukti dari masih rendahnya persentase sampah yang di daur ulang di Indonesia yang baru mencapai sekitar 11%. Lalu, kemana sampah-sampah kita berakhir? Perjalan sampah kita dimulai saat ia berakhir di tempat sampah. Lalu petugas sampah mengangkutnya ke TPS hingga TPA yang mungkin tak kita ketahui di TPA mana ia berakhir. Belum selesai sampai disitu, sampahmu juga berakhir di tanah, sungai, bahkan lautan yang jaraknya jauh sekali dari rumah kita. Lalu bagaimana cara mencegah sampah agar tak berakhir di tempat yang tidak seharusnya?

Sulap Sampah Jadi Kompos

Foto 2. Windrow Compost/ Aviaska

Salah satu langkah sederhana yang bisa kamu lakukan adalah mengolah sampah organik menjadi kompos. Ada banyak sekali metode pembuatan kompos yang digunakan untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk tanaman. mulai dari cara yang mudah sampai yang lebih kompleks yang kebanyakan dilakukan dalam skala industri. Buat kamu yang ingin mengolah sampah organik di rumah, gunakan cara yang sederhana saja! Kamu cukup menyediakan bahan-bahan pembuatan kompos seperti sampah organik, cairan EM4, air, tanah, arang sekam, kapur. Jangan lupa siapkan alat pembuatannya seperti ember untuk wadah kompos dan sarung tangan untuk mengaduk kompos. Setelah itu kamu bisa campurkan bahan-bahan tersebut hingga merata. Pastikan wadah tertutup rapat dan tidak terkena cahaya matahari langsung. Mudah bukan?

Bukan hanya kamu yang perlu membuat kompos, EcoRanger juga membuat kompos dari sampah organik yang terkumpul di Sentra Kelola Sampah (SEKOLA) di Banyuwangi. Sampah itu dikumpulkan dari 250 klien SEKOLA. Bersama Coralive.org dan Solgaard, EcoRanger sedang mencoba metode baru pembuatan kompos agar kuantitas dan kualitas produksi kompos SEKOLA meningkat. Metode yang digunakan adalah Windrow Composting. Metode ini dipilih karena bisa diaplikasikan untuk semua jenis sampah organik, loading capacity yang besar, dan kualitas kompos yang dihasilkan jauh lebih baik. Penerapan metode kompos ini berbeda dari biasanya karena bahan pembuatan kompos akan dibuat seperti gundukan yang memanjang supaya bisa teraerasi secara alamiah dengan udara dari luar. Per September 2021, EcoRanger telah berhasil mengolah 57 ton sampah organik menjadi 2770,9 kg kompos.

Sulap Sampah Jadi EcoBrick

Foto 3. Ecobrick/Aviaska

Gak kalah kreatif, sekarang sudah mulai marak pengolahan sampah anorganik menjadi batako atau yang populer disebut ecobrick. Ecobrick adalah jawaban solusi daur ulang sampah plastik. Plastik yang kita buang sekarang bisa jadi bahan baku untuk membangun rumah dan infrastruktur lainnya. Namun, inovasi ini sekarang masih terbatas untuk dilakukan hanya dalam skala industri.

EcoRanger bersama Coralive.org dan Solgaard tentunya tak akan menyia-nyiakan berbagai kesempatan untuk bisa mendaur ulang sampah. Oleh karena itu, kami turut mendukung kegiatan pengolahan sampah anorganik  menjadi Hollow Block (Batako) yang dilakukan Rebricks dengan menyediakan sarana mesin dan infrastruktur.  Hollow block ini terbuat dari campuran batako dan cacahan sampah plastik. Hollow block memiliki perbedaan bentuk dengan batako pada umumnya, yaitu bagian tengah batako yang berlubang. Meskipun berlubang, ternyata manfaatnya jauh lebih banyak dari batako biasa. Hollow block bisa bertahan lebih lama, lebih ringan, dan mudah dipasang. Tentunya ini menjadi poin plus karena dapat mempercepat proses pembangunan. Hollow block yang diproduksi Rebricks sudah sesuai dengan  Standar Nasional Indonesia (SNI). Sejauh ini, aksi kolaborasi ini sudah berhasil menghasilkan 600 hollow block per hari. Kedepannya, ditargetkan bisa memproduksi 1000 hollow block per hari dan mendaur ulang 1.000.000 sampah plastik.

Permasalahan sampah saat ini memang kian memburuk. Tapi satu hal yang pasti, berbagai inovasi dan solusi untuk mengatasi masalah ini harus terus kita gagas dan dukung secara konsisten agar perlahan kita bisa memacu laju kerusakan lingkungan akibat sampah.

Referensi

Membuat Kompos dari Sampah Organik

A Starter Guide to Hollow Block Manufacturing (Jammu & Kashmir Entrepreneurship Development)

Pengolahan Sampah Menjadi Kompos Skala Kawasan Dengan Menggunakan Metode Open Windrow Bergulir – Studi Kasus Pengolahan Sampah di Perumahan Griya Satria Bantarsoka Purwokerto (Pdyawardhana, Chrisna)

Share artikel ini

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tentang Kami

Jl. Citamiang No. 6, Sukamaju, Kec. Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat 40121

Ikuti Kami:

© 2021 EcoRanger Indonesia. All Rights Reserved