Tag Archives: greeneration foundation

Rethinking Plastics: Masa Depan Laut Indonesia Bersih Cemerlang

Rethinking Plastics: Masa Depan Laut Indonesia Bersih Cemerlang

Penulis: Aviaska Wienda Saraswati

Proyek Rethinking Plastics

Jakarta, 30 Juni 2021Aksi nyata meningkatkan pengelolaan sampah di Indonesia terus digencarkan para pegiat lingkungan demi mengejar ketertinggalan dalam mengatasi dampak yang ditimbulkan masalah sampah terhadap lingkungan. Proyek Rethinking Plastics: Circular Economy Solution to Marine Litter hadir membawa angin segar untuk mempercepat upaya mengatasi permasalahan sampah melalui sistem ekonomi sirkular. Proyek Rethinking Plastics bertujuan untuk mendorong percepatan penerapan konsumsi dan produksi plastik yang berkelanjutan dalam rangka menanggulangi sampah plastik di laut Indonesia, di Kawasan Asia Timur dan Tenggara.  Empat pilot project dari Proyek ini di launching pada 30 Juni 2021.

        (Foto 1. Sambutan dari Pascal Renauld)

 

Kekuatan Kolaborasi

Proyek Rethinking Plastics yang didanai oleh Uni Eropa dan Pemerintah Jerman dilaksanakan oleh Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ). Tentunya, GIZ tidak bergerak sendiri. GIZ berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, pemerintah indonesia, dan organisasi masyarakat. Langkah kolaborasi dipilih demi memperluas dampak terhadap lingkungan secara cepat dan masif. Harapannya, kolaborasi dapat menciptakan ruang bersama untuk saling mendukung aksi nyata pengelolaan sampah laut Indonesia. Dalam proyek ini, GIZ akan bergandengan tangan dengan program EcoRanger dari Greeneration foundation, Center for Southeast Asian Studies (CSEAS) Indonesia, Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia, dan Making Oceans Plastic Free (MOPF).

EcoRanger Bergerak Bersama Nelayan

Tak ingin kehilangan kesempatan untuk berkontribusi memberikan aksi untuk laut Indonesia, EcoRanger bergerak bersama nelayan dalam kegiatan Fishing For Litter. Kegiatan ini akan dilaksanakan pada April 2021-2022 di Dusun Pancer Banyuwangi, Jawa Timur, Indonesia. Melalui Fishing For Litter, EcoRanger akan memberdayakan dan membangun kebiasaan nelayan lokal untuk mengelola sampah laut mulai dari mengumpulkan hingga mengolah sampah laut. Peran nelayan sangat penting karena mereka adalah kelompok yang menghadapi dan terdampak permasalahan sampah laut secara langsung.

              (Foto 2. Sambutan dari Henriette)

Pemerintah Menyambut Baik Aksi Untuk Laut Indonesia

Aksi nyata untuk laut Indonesia Ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah Uni Eropa dan Indonesia. Dalam acara launching ini, mereka mendeklarasikan dukungan dan harapan hasil baik dari proyek Rethinking Plastics: Circular Economy Solution to Marine Litter. Henriette Faergemann, Konselor bidang Lingkungan Hidup, Iklim dan ICT, Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia, dalam sambutannya; menyampaikan apresiasi kepada keempat pelaksana kegiatan percontohan, pemerintah daerah serta berbagai pihak yang akan membantu mensukseskan proyek ini. Keempat proyek percontohan ini akan membawa misi besar dan harapan pengelolaan sampah laut melalui ekonomi sirkuler yang dapat menginspirasi berbagai gerakan di daerah lain. 

Rofi Alhanif, Asisten Deputi Pengelolaan Sampah dan Limbah, Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Indonesia berharap proyek Rethinking Plastics dapat menjadikan indonesia yang lebih bersih dan sehat sebagai aksi nyata yang didukung oleh mitra global dari Uni Eropa dan GIZ.

            (Foto 3. Sambutan dari Rofi Alhanif)

Adanya proyek percontohan di masing-masing daerah di Indonesia ini, pemerintah daerah sangat berterima kasih pada keempat pelaksana proyek percontohan, pemerintah Uni Eropa, dan GIZ karena telah memulai langkah inisiatif menjaga kebersihan laut Indonesia. Mereka yang mengungkapkan rasa syukurnya adalah  Pemerintah Daerah Banyuwangi (Hardiono),  Pemerintah Daerah Jawa Tengah (Fendiawan Tiskiantoro),  Pemerintah Daerah Kabupaten Malang (Renung Rubiyatadji), dan Pemerintah daerah Lombok Barat (Muzapir).

Launching proyek percontohan Rethinking Plastics ini menjadi momentum memulai aksi untuk menjaga kebersihan laut Indonesia. Tantangan yang akan dihadapi ke empat institusi pelaksana proyek telah menanti. Bersama-sama, semua menjalankan solusinya untuk laut Indonesia.

 

Share artikel ini

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tentang Kami

Jl. Citamiang No. 6, Sukamaju, Kec. Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat 40121

Ikuti Kami:

© 2021 EcoRanger Indonesia. All Rights Reserved

Danau Toba Butuh Aksi Nyata Pengelolaan Sampah Berkelanjutan

Versi English

Danau Toba Butuh Aksi Nyata Pengelolaan Sampah Berkelanjutan

EN Version

Penulis: Aviaska Wienda Saraswati

Bandung, 11 Juni 2021- Danau Toba, Siapa yang tidak kenal dengan salah satu danau tersohor di dunia ini. Terletak di provinsi Sumatera Utara, Danau Toba merupakan danau vulkanik terbesar di dunia karena luasnya lebih dari 1.145 kilometer persegi dengan kedalaman 450 meter. Uniknya, saking luasnya danau ini, lebih menyerupai lautan dengan Pulau Samosir di tengahnya. Kemasyhuran ini tentunya membuka potensi besar pertumbuhan sektor pariwisata. Bagaimana tidak, pemandangan alam yang indah, kekayaan budaya lokal, dan lezatnya kuliner khas Toba pasti membuat wisatawan tidak bisa menolak untuk mengunjungi Danau Toba.  Menyadari potensi besar yang dimiliki Danau Toba, Pemerintah menjadikan danau ini sebagai salah satu dari 5 Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) super prioritas.

Sebagai salah satu kawasan KSPN super prioritas, tentunya pemerintah merencanakan pembangunan sektor pariwisata yang masif di Danau Toba. Namun, sayangnya perkembangan sektor pariwisata pasti sejalan dengan peningkatan kerusakan lingkungan yang diakibatkan sampah aktivitas pariwisata.

                        Foto 1. Peserta ETS 3.0 
            (Dokumentasi Community Empowerment)

Masyarakat tentunya sudah berupaya untuk mencegah kerusakan lingkungan akibat aktivitas pariwisata. Namun, masih dibutuhkan lebih banyak aksi yang berkelanjutan dalam menjaga kelestarian lingkungan Danau Toba dari aktivitas pariwisata. Tak hanya masyarakat, pemerintah, komunitas lingkungan, dan wisatawan juga harus terlibat untuk mendukung masyarakat membangun pariwisata berkelanjutan di Danau Toba.

Melihat keresahan ini, Program EcoRanger dari Greeneration Foundation tergugah untuk mengenal lebih dekat permasalahan pengelolaan sampah di Danau Toba. Sebagai langkah awal, EcoRanger membuka sarana diskusi untuk mengupas pengelolaan sampah di Desa Wisata Danau Toba melalui EcoRanger Talkshow Series 3.0 (ETS 3.0) pada 10 Juni 2021. ETS 3.0 hadir dengan tema “Menilik Pengelolaan Sampah Desa Wisata di Kawasan Strategis Pariwisata Nasional Danau Toba, Sumatera Utara” dan mengundang berbagai aktor lokal dalam bidang pariwisata dan pengelolaan sampah seperti, Armawati Chaniago (tokoh penggerak bank sampah asal Medan), Ojax Manalu (Founder sekaligus Direktur Rumah Karya Indonesia), Irwansyah Putra (Koordinator Fasilitas Pelaksanaan Pemanfaatan Dana Desa, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi), dan Surana, MBA (Koordinator Peningkatan Kompetensi SDM Pariwisata, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif). 

Masing-masing pembicara membuka fakta dengan menyampaikan gagasannya terkait permasalahan yang terjadi. Armawati Chaniago menyatakan bahwa, “KSPN Danau Toba harus segera memiliki strategi untuk mengatasi sampah di desa wisata Danau Toba. Masalah ini tidak bisa ditunda untuk diselesaikan karena volume sampah lebih besar daripada kontainer sampah.” Ojax Manalu mengungkapkan, “Membangun pariwisata yang berkelanjutan itu tidak melulu hanya membicarakan strategi. Ada aspek yang tak kalah penting dan tidak boleh terlewatkan yaitu membangun budaya di masyarakat untuk bergerak bersama mengembangkan pariwisata berkelanjutan.”

         Foto 2. Pemaparan Materi dari Ojax Manalu 
           (Dokumentasi Community Empowerment)

Tak hanya aktor lokal penggerak pariwisata dan pengelolaan sampah, dari pihak pemerintah pun turut menyampaikan gagasannya. Irwansyah Putra mengatakan, “Dalam membangun desa wisata, kita harus dukung aparatur desa, semua orang di desa memiliki keterbatasan, disitulah kita sebagai pegiat lingkungan bisa membantu memberdayakan mereka. Supaya kita bisa membawa perubahan agar desa lestari dan dan dapat menunjang perekonomian masyarakat Indonesia”. Surana, MBA  menegaskan, “Sekarang ini muncul tren baru dalam dunia  pariwisata paska pandemi. Dimana kompetensi CHSE menjadi aspek yang sangat penting untuk dimiliki destinasi wisata, termasuk desa wisata. Dalam pengembangan pariwisata butuh keterlibatan baik dari masyarakat, komunitas, dan pemerintah. Poin penting yang harus kita pegang dalam mengembangkan pariwisata adalah kita harus mengembalikan lingkungan dan alam karena kita hanya meminjam dari anak cucu kita dan harus mengembalikan seperti sedia kala.”

               Foto 3. Pemaparan Materi dari Surana, MBA 
           (Dokumentasi Community Empowerment)

Gagasan yang muncul dalam forum diskusi ini baik dari pembicara maupun peserta alangkah baiknya memicu berbagai pihak untuk melakukan langkah perubahan demi terwujudnya pariwisata berkelanjutan. Tentu setidaknya masyarakat lokal, pemerintah daerah, wisatawan dan komunitas lokal bisa memulai langkah ini segera, karena merekalah yang memahami dan menyaksikan langsung permasalahan yang terjadi. Langkah awal ini yang nantinya akan membuka kesempatan kolaborasi secara nasional maupun internasional untuk keberlanjutan desa wisata Danau Toba.

Share artikel ini

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tentang Kami

Jl. Citamiang No. 6, Sukamaju, Kec. Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat 40121

Ikuti Kami:

© 2021 EcoRanger Indonesia. All Rights Reserved