Sampah plastik kiriman menerjang Pantai Pulau Merah di Kabupaten Banyuwangi. Sistem pengelolaan sampah berkelanjutan jadi solusi.
Baru-baru ini Pantai Pulau merah diterjang serangan sampah plastik yang terbawa ombak dan terdampar di Pantai. Kejadian ini sangat merugikan industri pariwisata setempat. Banyak wisatawan yang merasa tidak nyaman melihat sampah berserakan saat mereka hendak berlibur. Bagaimana sampah-sampah tersebut bisa berakhir di pantai?
Pantai di Banyuwangi Diserang Sampah Plastik

Pantai-pantai di Kabupaten Banyuwangi acap kali diterjang serangan sampah plastik yang terbawa air laut. “Musim sampah” di pantai-pantai wilayah Banyuwangi ini biasanya terjadi pada saat musim penghujan yaitu sekitar bulan Oktober-Februari. Pantai yang kerap kali jadi sasaran terdamparnya sampah plastik adalah Pantai Pulau Merah, Pantai Blimbingsari, Pantai Pulau Santen, dan Pantai Grand Watudodol.
Sampah plastik kiriman yang terdampar di area wisata pantai ini berasal dari sampah daratan yang terbawa arus sungai ke laut dan Laut Jawa bagian barat. Sebuah penelitian yang dilakukan Pusat Riset Kelautan KKP pada tahun 2015-2020 mengungkap adanya pergerakan timbunan sampah dari Laut Jawa ke Selat Bali. Pergerakan sampah terlacak dimulai dari wilayah Muara Gembong menuju ke arah timur yang melintasi Selat Bali. Pergerakan ini terjadi karena pengaruh angin muson barat yang berlangsung selama bulan Desember-Januari. Angin muson menyebabkan hidrodinamika arus bergerak dari barat ke timur.
Akibatnya, pantai-pantai di Banyuwangi yang terhubung dengan Selat Bali tak luput jadi tempat singgahnya sampah-sampah plastik. Bahkan, dari Banyuwangi, banyak sampah plastik yang sempat terdampar kembali melanjutkan perjalanannya ke pantai-pantai di Bali. Maka, jangan heran kalau beberapa tahun terakhir selalu saja ada berita yang meliput sampah plastik di Bali pada akhir hingga awal tahun baru.
Permasalahan Sampah di Banyuwangi

Permasalahan sampah plastik kiriman di Banyuwangi hanya salah satu bagian kecil dari permasalahan yang besar. Dari hulu hingga ke hilirnya, pemerintah mengakui bahwa pengelolaan sampah belum berjalan dengan baik dan merata. Padahal, potensi sampah tiap harinya mencapai 1.245 ton. Dari jumlah tersebut 66 persennya merupakan sampah organik dan 33% adalah sampah anorganik yang didominasi plastik.
Belum maksimalnya strategi pengelolaan sampah yang berkelanjutan dan komprehensif menyebabkan pencemaran sampah yang tak hanya berdampak buruk bagi lingkungan. Masalah sampah ini telah berdampak buruk bagi perekonomian, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat. Bahkan sektor pariwisata yang pengembangannya sedang digenjot pemerintah daerah juga terimbas.
Sejauh ini, sampah yang mampu dikelola pemerintah hanya sekitar 42% saja. Sisanya tidak dikelola dengan benar. Sangat disayangkan, berdasarkan data dari DLH Kabupaten Banyuwangi, Persentase sampah yang dibakar mencapai 57%. Artinya, banyak penduduk masih menggunakan cara yang konvensional. Hal itu bisa disebabkan karena minimnya layanan pengelolaan sampah dan informasi pengelolaan sampah yang baik.
Penanganan Sampah Selamatkan Lingkungan

Untuk mendukung sistem pengelolaan sampah, pemerintah setempat sebenarnya sudah mengeluarkan beberapa kebijakan seperti Peraturan Daerah Nomor 2 tahun 2021 tentang pembangunan jangka menengah daerah Kabupaten Banyuwangi tahun 2021-2026. Dari sisi pemerintah punya kewajiban untuk membenahi dan memeratakan sistem dan fasilitas layanan pengelolaan sampah.
Selain itu, untuk mengatasi permasalahan dari hulu, masyarakat butuh dididik untuk belajar mengelola sampahnya dari rumah. Oleh karena itu, pemerintah butuh uluran tangan berbagai pihak untuk terjun ke masyarakat mengajari dan membiasakan mereka mengelola sampah. Program EcoRanger dari Greeneration Foundation selama tiga tahun ini telah bergerak bersama warga Dusun Pancer untuk bersama-sama membangun sistem dan kebiasaan mengelola sampah secara bertanggung jawab.
Sistem pengelolaan sampah yang saat ini diterapkan adalah dengan memberdayakan masyarakat untuk bisa memilah sampah dari rumah secara mandiri. EcoRanger membekali masyarakat tentang ilmu pengelolaan sampah, fasilitas layanan pengelolaan sampah, dan bisnis daur ulang sampah.
Edukasi diberikan untuk masyarakat, siswa-siswi sekolah, komunitas, hingga wisatawan Pantai Pulau Merah. Edukasi dikemas dalam berbagai kegiatan menarik seperti EcoRanger Academy, beach clean up, dan envirosport. Kegiatan tersebut rutin dilakukan agar masyarakat semakin memahami pentingnya mencegah pencemaran sampah.
Fasilitas pengelolaan sampah juga disediakan untuk warga setempat agar warga bisa terlibat langsung mengelola sampahnya dari rumah. Sentra Kelola Sampah (SEKOLA) yang sudah berdiri sejak 2019 telah mengelola sampah lebih dari 800 ton hingga saat ini. Sampah selalu dipilah dan didaur ulang menjadi berbagai produk. Daur ulang yang dilakukan secara mandiri oleh EcoRanger adalah daur ulang sampah organik jadi kompos, maggot, dan biogas. Untuk sampah plastik, EcoRanger bekerjasama dengan industri daur ulang sampah.
Di musim sampah kali ini, kegiatan beach clean up jadi andalan masyarakat Dusun Pancer untuk membersihkan sampah plastik kiriman yang mencemari pantai. Masyarakat bersama EcoRanger membersihkan Pantai Pulau Merah dan pantai-pantai lain di sekitarnya agar wisatawan juga nyaman saat mengunjungi pantai di musim sampah. Berbagai upaya yang sudah dilakukan bertujuan untuk mewujudkan pariwisata yang berkelanjutan di Pantai Pulau Merah, Kabupaten Banyuwangi.
