Lombok butuh dukungan untuk mengembangkan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan. EcoRanger hadirkan solusi lewat penguatan Lembaga Pengelolaan Sampah, clean up, pengembangan kapasitas sumber daya manusia dan EcoRanger Academy.
EcoRanger telah berupaya untuk mengembangkan sistem pengelolaan sampah bertanggung jawab di Kabupaten Banyuwangi untuk mendukung pariwisata berkelanjutan. Saat ini, EcoRanger memperluas dampaknya dengan program pemberdayaan komunitas di bidang pengelolaan sampah ke Kabupaten Lombok, NTB. Ini dia yang kami lakukan untuk Lombok.
Permasalahan Sampah di Lombok

Permasalahan sampah terjadi merata di seluruh Indonesia, tidak terkecuali Lombok. Pemicu dan pola masalahnya hampir sama yaitu, tidak ada sistem pengelolaan sampah yang bertanggung jawab, minimnya fasilitas pengelolaan sampah, tidak terlibatnya masyarakat secara menyeluruh, serta minimnya perhatian pemerintah akan masalah ini.
Akibatnya, sampah masih dikelola dengan cara konvensional seperti dibuang ke lahan kosong, sungai, dan di bakar. Hanya sebagian keciL masyarakat yang mendapat layanan angkutan sampah ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Berdasarkan data akumulasi timbulan sampah Provinsi NTB wilayah Lombok Barat, Timur, Tengah, dan Kota Mataram jumlahnya lebih dari 1700 ton sampah yang dihasilkan per hari pada tahun 2021.
Untuk memperbaiki masalah persampahan di Lombok, pemerintah daerah mencanangkan program Zero Waste Lombok. Program ini diciptakan pemerintah untuk membenahi masalah sampah mulai dari sumber hingga pemrosesan akhir. Melalui program ini, pemerintah mendesak masyarakat untuk memilah sampah dari rumah agar bisa didaur ulang di TPA. Program ini telah mencapai target pengelolaan sampah sebanyak 49% dari target sebesar 70%.
Sistem Pengelolaan Sampah Oleh EcoRanger

Melihat adanya potensi masalah yang harus diselesaikan, EcoRanger berupaya untuk menghadirkan solusi pengelolaan sampah yang holistik untuk Lombok. Dengan menerapkan prinsip 3R (Reuse, Reduce, Recycle), EcoRanger menjalankan strateginya dengan mendukung berjalannya 5 aspek persampahan yaitu regulasi, kelembagaan, pendanaan, partisipasi multi pihak, dan operasional. Saat ini, EcoRanger hadir di Desa Wisata Hijau Bilebante dan Bonjeruk di Kabupaten Lombok Tengah yang merupakan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN)
Untuk mewujudkan strategi jadi langkah nyata, beberapa aksi dilakukan untuk memberi pemahaman tentang pentingnya pengelolaan sampah yang berkelanjutan pada masyarakat. aksi tersebut diwujudkan dalam kegiatan EcoRanger Academy, Clean Up, dan Penguatan Lembaga Pengelola Persampahan.
- EcoRanger Academy Bangun Sistem Pengelolaan Sampah

EcoRanger Academy menyasar masyarakat setempat untuk lebih melek isu lingkungan terutama persampahan. Masyarakat dibekali dengan pengetahuan pengelolaan sampah bertanggung jawab agar nantinya dapat menjadi aktor-aktor yang menggerakkan masyarakat untuk mulai mengelola sampahnya dengan baik sejak dari rumah masing-masing.
- Clean Up

Aksi clean up dilakukan untuk membersihkan kawasan pemukiman hingga destinasi wisata. Salah satu contohnya, kami mengadakan aksi #WisataHijauBebasSampah di Desa Wisata Hijau Bilebante. Kegiatan ini diikuti oleh masyarakat setempat, siswa-siswi sekolah dan pengelola Desa Wisata Hijau. Aksi ini dilakukan pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia.
- Penguatan Lembaga Pengelola Persampahan

Penguatan lembaga pengelola persampahan dilakukan dengan mengembangkan kapasitas tim TPS 3R, edukasi nasabah/klien, dan kampanye edukatif tentang persampahan yang melibatkan komunitas lokal. Kapasitas tim ditingkatkan agar proses pengelolaan sampah berjalan lebih efektif dan efisien. Sehingga, mereka mampu mengelola lebih banyak sampah dan mengurangi timbulan residu. Kampanye edukatif dilakukan langsung di TPS 3R agar masyarakat bisa melihat langsung proses pengelolaan sampah yang baik dan menstimulasi kreativitas Tim TPS 3R Bonjeruk Asri pada tiap-tiap aktivitas edukasi.
Mengatasi Masalah Sampah Mendukung Pariwisata

Berbagai upaya yang telah dilakukan juga membawa misi untuk mengembangkan pariwisata berkelanjutan di Desa Wisata Hijau Bilebante dan Bonjeruk. Keduanya memiliki pesona pariwisata alam yang menyuguhkan pemandangan sawah yang hijau dan menyejukkan hampir serupa namun tetap punya keunikan masing-masing.. Bedanya, Desa Wisata Bonjeruk juga menyuguhkan eksotisme bangunan sejarah peninggalan era penjajahan belanda. Sedangkan Desa Wisata Hijau Bilebante menyuguhkan pilihan aktivitas outdoor menarik seperti bersepeda dan berkemah.
Dengan adanya sistem pengelolaan sampah yang baik, kualitas wisata bisa terjaga dan berkelanjutan, karena akan menghindarkan destinasi wisata dari dampak buruk lingkungan dari pencemaran sampah. Destinasi wisata yang bebas dari sampah juga memberikan kenyamanan bagi pengunjung sehingga makin banyak pengunjung yang tertarik untuk berlibur di Desa Wisata Hijau Bilebante dan Desa Wisata Bonjeruk. To care, to clean, to sustain!
