Jalan-Jalan Ke Hutan Mangrove

Mangrove Explore Tourism  (Ist / beritabali.com)
Mangrove Explore Tourism  (Ist / beritabali.com)

Daftar Isi

Hutan mangrove atau hutan bakau, yang dulunya tidak populer di kalangan wisatawan. Namun, kini banyak wisatawan lokal dan mancanegara memburunya. Motif mereka untuk berwisata ke hutan ini pun beragam. Ada yang datang untuk menikmati pemandangan dan berfoto ria. Ada juga  untuk belajar ekosistem hutan dan perlindungannya. Di Indonesia, banyak sekali destinasi wisata hutan mangrove yang bisa kamu kunjungi. Contohnya Hutan Mangrove Bedul di Banyuwangi, Taman Wisata Alam Angke Kapuk, Hutan Mangrove Kulonprogo, dan Hutan Mangrove Tarakan. Kamu sudah pernah jalan-jalan ke hutan ini belum Rangers? Yuk cari tahu seperti apa wisata mangrove di Indonesia!

Hutan Mangrove

Hutan mangrove adalah formasi hutan yang terdiri dari individu-individu pohon mangrove yang tumbuh dalam satu koloni. Mereka hidup di pesisir laut dan muara sungai. Di Indonesia, mereka sering disebut sebagai hutan bakau. Tanaman dikotil ini dapat hidup di air payau yang menjadi titik pertemuan air laut yang asin dan sungai yang tawar.  Sebagian besar mangrove tumbuh baik di tanah yang berlumpur. Contoh spesies yang tumbuh di tanah berlumpur adalah Rhizopora mucronata dan Avicennia marina. 

Foto 2. Hutan Bakau (Unsplash / Waranont Joe)
Foto 2. Hutan Bakau (Unsplash / Waranont Joe)

Hutan ini memiliki manfaat berlimpah bagi manusia maupun lingkungan. Hutan ini terkenal sebagai benteng utama abrasi laut. Alhasil, daratan di pesisir pantai tidak habis digerus terjangan ombak. Selain itu, hutan mangrove juga menjadi habitat dan tempat berkembang biak beragam biota seperti ikan kecil dan udang. Batang mangrove bisa digunakan sebagai kayu bakar untuk memenuhi kebutuhan manusia. Hutan ini juga punya peran penting sebagai penangkap CO2 yang dihasilkan dari aktivitas manusia. Adanya hutan mangrove mengurangi potensi lepasnya CO2 ke atmosfer yang  memperburuk perubahan iklim. Banyaknya karbon yang diserap, memberikan manfaat dari karbon biru yang dihasilkan mangrove. 

Potensi Hutan Bakau di Indonesia

Foto 3. Penanaman Mangrove Pantai Setokok (Laily Rachev / BPMI Setpres)
Foto 3. Penanaman Mangrove Pantai Setokok (Laily Rachev / BPMI Setpres)

Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki hutan bakau terluas di dunia. Kita memiliki 8.8 juta hektar hutan bakau. Hutan tersebut jadi rumah 202 spesies tumbuhan mangrove. Dari jumlah tersebut, 43 spesies merupakan mangrove sejati (Noor et al. 1999). Kawasan ini tentunya harus dikelola dan dilindungi dengan baik. Tentunya agar tidak terancam eksploitasi dan perusakan.

Akan tetapi, saat ini  1.7 hektarnya telah rusak. Kerusakannya disebabkan oleh alih fungsi lahan, pengembangan budidaya perikanan, dan pemanfaatan sebagai kayu bakar yang tak terkendali. Ini berdampak besar pada perubahan iklim dunia yang salah satunya disebabkan oleh kerusakan hutan bakau di Indonesia.

Ekowisata Hutan Mangrove

Foto 4. Menjelajahi Hutan Bakau (Viator)
Foto 4. Menjelajahi Hutan Bakau (Viator)

Potensi kerusakan hutan bakau  tiap tahunnya bisa mencapai 51 juta hektar harus dicegah lewat konservasi. Sektor pariwisata juga dapat berperan untuk mendukung konservasi hutan. Caranya dengan menjadikannya sebagai kawasan ekowisata. Tentunya, pembangunan ekowisata harus mengedepankan keberlanjutan lingkungan. 

Ekowisata adalah konsep pembangunan pariwisata yang bertanggung jawab pada kelestarian alam dan kearifan lokal. Jadi, pembangunan ekowisata harus mengutamakan konservasi lingkungan, pendidikan lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan. Konsep ini pertama kali masuk ke Indonesia pada tahun 1980-an. Aktivitas ekowisata yang pertama kali  adalah pendakian gunung dan wisata Danau Toba. Ekowisata telah diatur dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 33 Tahun 2009.

Pemanfaatan hutan ini sebagai ekowisata ibarat pedang bermata dua. Jika dikelola dengan baik, bisa berdampak baik bagi pemberdayaan masyarakat sekitar dan lingkungan. Namun, jika salah kelola, pasti akan merugikan alam dan masyarakat sekitar. Salah pengelolaan timbul dari ambisi untuk meraup keuntungan finansial.

Penerapan prinsip ekowisata secara tegas bisa dimulai dengan memberikan edukasi konservasi mangrove pada wisatawan, menyediakan sarana pengelolaan sampah bertanggung jawab, memberdayakan masyarakat lokal sebagai pengelola wisata, mengatur jumlah kunjungan wisata, tidak mengubah banyak bentang alam, melakukan rehabilitasi mangrove secara rutin, dan menerapkan kearifan lokal dalam pengelolaan wisata.

Sebagai pengunjung, kita juga harus bertanggung jawab menjaga kelestarian hutan ini Rangers! Terapkan gaya hidup ramah lingkungan dan minim sampah. Patkikan kunjunganmu tidak membebani masyarakat dan lingkungan. Kamu juga bisa terlibat dalam kegiatan rehabilitasi mangrove seperti menanam mangrove bersama wisatawan lainnya. Yuk jalan-jalan ke hutan mangrove untuk dukung pariwisata berkelanjutan!

Bagikan Artikel Ini
Postingan Terkait