Program EcoRanger telah menyelesaikan program Waste to Energy yang berhasil mengelola sampah jadi energi terbarukan. Biogas, kompos, maggot, kasgot, dan bio slurry jadi produk utama daur ulang sampah organik dengan beragam manfaat.
EcoRanger menghadirkan inovasi pengelolaan sampah baru di Banyuwangi. Sampah yang dihasilkan dari lingkungan pariwisata, kini diolah menjadi sumber energi terbarukan. Akselerasi sistem pengelolaan sampah ini membuka peluang untuk mengembangkan produk daur ulang sampah. Ini dia selengkapnya tentang praktek Waste to Energy.
Waste to Energy Mengakselerasi Pengelolaan Sampah
Proses Pembuatan Biogas Sebagai Energi Terbarukan (Rindra Rafsanjani Arifin / Emvitrust)
Sejak tahun 2019, EcoRanger terus berupaya untuk mengembangkan sistem pengelolaan sampah di kawasan pariwisata Kabupaten Banyuwangi. Hal ini dilakukan untuk mengimplementasikan konsep pariwisata berkelanjutan agar destinasi wisata tetap lestari dan terus mendukung perkembangan perekonomian.
Sistem pengelolaan sampah yang diterapkan mulai dari edukasi dan pemberdayaan masyarakat, advokasi regulasi dan kelembagaan, penyediaan fasilitas pengelolaan sampah berkelanjutan, dan daur ulang sampah. Dengan menerapkan sistem ini EcoRanger telah mengelola lebih dari 589 ton sampah sejak 2019-2021. Sampah yang paling banyak dikelola adalah sampah organik.
Akan tetapi, capaian ini dirasa belum cukup untuk menangani masalah sampah yang ada. Persentase daur ulang sampah organik masih cukup rendah. Jumlahnya hanya 1.5% yang didaur ulang jadi kompos (EcoRanger, 2021).
Melihat potensi masalah sampah organik yang besar, EcoRanger berusaha untuk mengakselerasi daur ulang sampah organik. Lewat program Waste to Energy, EcoRanger meningkatkan jumlah sampah yang didaur ulang dengan menambah jenis produk daur ulang. Sampah organik, kini juga didaur ulang jadi biogas, maggot, kasgot, dan bio slurry.
Proyek ini berlangsung selama 1 tahun sejak April 2022 – Maret 2023. Pelaksanaan program ini didukung oleh Bank Mandiri untuk memberi dampak yang lebih luas. Saat ini, program telah selesai dan ditutup lewat kegiatan diseminasi. Diseminasi dilaksanakan pada 15-16 Maret 2023. Rangkaian acara diseminasi adalah pemaparan capaian program Waste to Energy, pelepasan Emvitrust dari Greeneration Foundation, peninjauan instalasi biogas, kunjungan SEKOLA, Beach Clean Up, dan Edutrip Pantai Wedi Ireng.
Skema Pengelolaan Sampah Berkelanjutan
Pengelolaan Sampah di SEKOLA (Rindra Rafsanjani Arifin / Emvitrust)
Skema baru pengelolaan sampah menjadi energi ini tidak jauh berbeda dengan sebelumnya. Akselerasi fokus dilakukan pada proses daur ulang sampah. Alhasil, produk daur ulang lebih beragam dan sampah organik yang bisa didaur ulang lebih banyak.
Intervensi dimulai dengan memberikan edukasi terkait pengelolaan dan daur ulang sampah kepada masyarakat. Berbekal ilmu yang didapat, masyarakat secara mandiri memilah sampah dari rumah agar selanjutnya bisa dikelola tim Sentra Kelola Sampah (SEKOLA). Sampah dari masyarakat kemudian didaur ulang jadi beragam produk. Sampah organik diolah jadi kompos, biogas, maggot, kasgot, dan bio slurry. Sampah anorganik diolah oleh industri daur ulang. Sampah residu diserahkan ke Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Banyuwangi.
Hasil daur ulang sampah organik lalu digunakan masyarakat setempat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selain itu, hasil daur ulang juga digunakan untuk mendukung operasional SEKOLA. Skema ini telah menerapkan ekonomi sirkular dalam proses pengelolaan sampah.
Kampanye Lingkungan Bersama Masyarakat Lokal
Educamp (Rindra Rafsanjani Arifin / Emvitrust)
Selain operasional pengelolaan sampah, program Waste to Energy juga melaksanakan berbagai kampanye lingkungan yang seru dan edukatif. Kampanye lingkungan dilakukan untuk menyebarkan kesadaran dan wawasan tentang pengelolaan sampah di Banyuwangi untuk pemerintah, masyarakat dan wisatawan.
Aktivitas kampanye yang telah dilaksanakan adalah peluncuran program, stakeholder focus group discussion, workshop pengelolaan sampah, EcoRanger Academy, Beach Clean Up, dan Educamp. Kampanye tersebut rutin dilaksanakan agar memberi dampak yang lebih berkelanjutan.
Dampak Lingkungan dan Sosial
Penanaman Pohon (Rindra Rafsanjani Arifin / Emvitrust)
Program Waste to Energy ini memiliki mimpi untuk mengurangi timbulan sampah organik yang mencemari lingkungan di Dusun Pancer, Kabupaten Banyuwangi. Selain itu, harapannya masyarakat semakin berdaya dalam mengelola sampah secara berkelanjutan.
Selama berjalannya program, dampak lingkungan yang dihasilkan adalah terkelolanya lebih dari 250 ton sampah. Pengelolaan sampah ini telah mengurangi jejak karbon sebanyak 235.000 metric Kg CO2e.
Selain itu, biogas yang diproduksi mengurangi penggunaan gas LPG yang berasal dari energi tidak terbarukan. Kualitas pertanian juga meningkat karena penggunaan bio slurry dan kompos mampu mengurangi penggunaan pupuk kimia. Maggot yang diproduksi juga dimanfaatkan warga untuk pakan ternak yang kaya nutrisi.
Dampak sosial juga dirasakan masyarakat sekitar dengan hadirnya program Waste to Energy. Akselerasi skema daur ulang sampah telah membuka lapangan pekerjaan bagi warga setempat. Lebih dari dari 2.000 orang telah teredukasi tentang pengelolaan sampah jadi energi lewat beragam kampanye lingkungan yang edukatif. Jumlah klien SEKOLA juga bertambah 50 orang. Artinya, 300 KK telah mampu memilah sampah dari rumah.
Secara keseluruhan, capaian-capaian tersebut telah mendukung capaian target JAKSTRANAS dalam PP No. 97 tahun 2017. Pemerintah menargetkan untuk mengurangi sampah sebanyak 30% dan 70% penanganan sampah di Indonesia.
Rencana Keberlanjutan Aksi Pengelolaan Sampah
Emvitrust (Rindra Rafsanjani Arifin / Emvitrust)
Kita telah mengetahui seperti apa upaya yang telah dicurahkan dan dampak yang dihasilkan program Waste to Energy ini. Untuk menjaga keberlanjutan pariwisata di Banyuwangi, EcoRanger melahirkan Emvitrust yang akan melanjutkan aksi-aksi lingkungan di destinasi wisata Indonesia.
Emvitrust adalah lembaga wirausaha sosial yang bergerak di bidang lingkungan dan pariwisata berkelanjutan melalui pemberdayaan masyarakat lokal. Lembaga ini memiliki nama resmi Yayasan Green Harmoni Alam Indonesia. Emvitrust berlokasi di Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kabupaten Banyuwangi.
Dalam mendukung keberlanjutan pariwisata Indonesia, Emvitrust memiliki beberapa misi. Pertama, membangun kolaborasi yang inklusif dalam mewujudkan tata kelola lingkungan dan pariwisata berkelanjutan. Kedua, meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat melalui kegiatan pariwisata yang berwawasan lingkungan. Ketiga, memberikan layanan pelatihan dan konsultasi terkait tata kelola lingkungan dan pariwisata berkelanjutan. Keempat, mengembangkan potensi sumber daya dan kemandirian masyarakat dalam praktik pengelolaan lingkungan dan pariwisata berkelanjutan.
Program utama untuk menjaga keberlanjutan pariwisata adalah pengelolaan SEKOLA, menyediakan paket wisata edukasi (Edutrip), dan memberikan layanan pelatihan dan konsultasi terkait pengelolaan sampah destinasi wisata. Program-program tersebut akan menjadi ujung tombak restorasi lingkungan kawasan wisata agar tetap lestari.
